Software Manufaktur untuk Pabrik Kaca, Mengendalikan Yield, Sisa Potongan, dan Kaca Pecah di Setiap Tahap Produksi
Laporan produksi akhir bulan di sebuah pabrik kaca menunjukkan pemakaian bahan baku masih dalam batas wajar. Namun ketika tim gudang menghitung stok fisik, angkanya tidak sama dengan yang tercatat di sistem. Di sudut area produksi, potongan sisa dalam berbagai ukuran menumpuk di rak tanpa label, dan tidak ada yang bisa memastikan sisa itu berasal dari order yang mana atau masih layak dipakai lagi. Sementara itu, beberapa panel yang pecah di tengah proses sudah dibuat ulang, tetapi biayanya tidak jelas dibebankan ke order siapa.
Situasi seperti ini jarang terlihat sebagai masalah besar karena tidak ada satu kejadian yang mencolok. Kerugiannya tersebar tipis di banyak tempat: sedikit di sisa potongan, sedikit di kaca pecah, dan sedikit di energi yang terpakai untuk membuat ulang produk yang sama. Pabrik dengan banyak order berspesifikasi berbeda dan beberapa lini proses biasanya merasakannya lebih dulu, sebab selisih kecil per lembar berubah menjadi angka besar saat dijumlahkan di akhir bulan.
Kaca juga bukan material yang bisa diperbaiki ketika rusak. Setiap lembar yang pecah atau terpotong salah berarti bahan, waktu mesin, dan energi yang sudah terpakai ikut hilang. Karena itu, software manufaktur untuk pabrik kaca tidak cukup hanya mencatat hasil produksi. Fungsinya yang paling berharga adalah membuat setiap lembar dan potongan kaca bisa dilacak, diukur kehilangannya, dan dibebankan ke order yang tepat.
- Kehilangan yield di pabrik kaca tersebar tipis di banyak tahap, mulai dari sisa potongan, kaca pecah, sampai energi yang terbuang, sehingga sulit terlihat jika produksi hanya dihitung dari produk jadi.
- Produksi kaca punya tiga karakter khas: satu bahan melayani banyak order, kaca yang pecah tidak bisa dirework, dan proses panasnya menyerap energi besar.
- Sisa potongan sebaiknya dicatat sebagai item stok lengkap dengan ukuran, ketebalan, jenis, dan lokasinya agar bisa dicari dan dipakai kembali untuk order baru.
- Setiap kejadian kaca pecah perlu dicatat beserta tahap, penyebab, batch bahan, dan order yang menanggung biaya pembuatan ulang.
- Batch tracking membantu menelusuri pecah yang berulang ke batch atau pemasok tertentu, sehingga menjadi dasar yang kuat untuk klaim dan evaluasi.
- Selisih stok yang sulit dijelaskan, sisa potongan yang menumpuk, biaya pembuatan ulang yang tidak terlacak, dan margin per order yang baru diketahui akhir bulan adalah tanda pabrik perlu beralih dari spreadsheet.
- SAP Business One berperan sebagai tulang punggung data produksi, stok, dan biaya, sementara optimasi pola potong dan kontrol mesin dapat diintegrasikan sesuai kebutuhan pabrik.
- Persiapan sebelum implementasi sama pentingnya dengan pilihan sistem, mencakup kodifikasi produk, daftar alasan pecah, alur produksi, kebiasaan pencatatan, dan pendamping implementasi yang memahami manufaktur.
Apa Itu Software Manufaktur untuk Pabrik Kaca?
Software manufaktur untuk pabrik kaca adalah sistem yang digunakan untuk merencanakan, mencatat, dan mengendalikan seluruh proses produksi kaca, mulai dari pengadaan bahan baku, pembentukan atau pemotongan, proses lanjutan seperti tempering dan laminasi, hingga pengiriman produk jadi. Berbeda dengan pencatatan manual atau spreadsheet, sistem ini menyimpan data bahan, proses, mesin, dan biaya dalam satu basis data yang sama, sehingga setiap pergerakan material bisa ditelusuri. Pada pabrik yang sudah bertumbuh, sistem seperti ini umumnya hadir sebagai bagian dari software ERP manufaktur yang juga menghubungkan produksi dengan gudang, pembelian, penjualan, dan keuangan.
Yang membedakannya dari software manufaktur untuk industri lain adalah karakter material kaca itu sendiri. Satu bahan baku bisa menghasilkan banyak ukuran dan spesifikasi, produk yang rusak tidak bisa diperbaiki seperti barang lain, dan sebagian proses menyerap energi yang besar. Karena itu, kemampuan yang paling dibutuhkan adalah mencatat kehilangan bahan di setiap tahap, menelusuri asal batch, dan menghitung biaya per order secara akurat, bukan sekadar mencatat jumlah barang jadi di akhir produksi.
Perlu juga dipahami pembagian perannya. Sistem manufaktur berbasis ERP berfungsi sebagai tulang punggung data dan kontrol bisnis, yaitu perencanaan produksi, stok, biaya, dan pelaporan. Adapun optimasi pola potong dan pengendalian mesin potong biasanya ditangani perangkat lunak khusus yang diintegrasikan dengan ERP. Pemahaman ini membantu perusahaan menilai kebutuhannya secara realistis sebelum memilih sistem.
Kenapa Produksi Kaca Tidak Bisa Dikelola Seperti Pabrik Biasa?
Banyak pabrik kaca awalnya mengelola produksi dengan cara yang sama seperti pabrik lain: mencatat bahan masuk, jumlah barang jadi, lalu menghitung selisihnya. Cara itu terasa cukup selama volume order masih kecil. Masalahnya, kaca punya tiga karakter yang membuat selisih tersebut sulit dijelaskan dan sulit dibebankan ke order yang tepat. Karakter-karakter inilah yang membedakan kebutuhan software manufaktur di pabrik kaca dari pabrik pada umumnya.
Satu Bahan Baku, Banyak Spesifikasi Output
Pada banyak pabrik kaca, satu bahan baku yang sama menghasilkan produk dengan ukuran, ketebalan, dan spesifikasi yang berbeda-beda. Satu lembar besar, misalnya, dipotong menjadi banyak panel untuk beberapa order sekaligus. Akibatnya hubungan antara bahan dan produk bukan lagi satu banding satu.
Satu bahan melayani banyak order, dan satu order bisa memakai banyak bahan. Dengan spreadsheet, pemakaian bahan biasanya dihitung dari ukuran produk jadi, sehingga sisa potongan tidak punya pemilik dan akhirnya hilang dari perhitungan biaya.
Tidak Ada Rework, Hanya Remake atau Dilebur Ulang
Kaca yang pecah atau cacat tidak bisa diperbaiki seperti produk logam atau plastik. Pilihannya hanya membuat ulang produk dari awal, atau melebur pecahannya kembali bila pabrik memiliki fasilitas peleburan. Dalam kedua kasus, bahan, waktu mesin, dan energi yang sudah terpakai tidak bisa ditarik kembali.
Jika pembuatan ulang tidak dicatat sebagai kejadian tersendiri lengkap dengan alasan dan biayanya, kerugian itu menyatu dengan biaya produksi normal dan margin menyusut tanpa ada yang tahu penyebabnya.
Proses Berenergi Tinggi yang Mahal untuk Dihentikan dan Dimulai Ulang
Tahap peleburan, tempering, dan proses panas lainnya menyerap energi dalam jumlah besar. Tungku peleburan umumnya dijaga tetap menyala, dan oven tempering paling efisien ketika muatannya terisi dengan baik. Karena itu jadwal yang berantakan, mesin yang menunggu bahan, atau muatan yang tidak penuh langsung berubah menjadi biaya energi yang terbuang.
Perencanaan produksi di pabrik kaca perlu menyatukan jadwal order, ketersediaan bahan, dan kapasitas mesin dalam satu pandangan, sesuatu yang sulit dicapai ketika data tersebar di beberapa file dan bagian. Dari sinilah pertanyaan berikutnya muncul, yaitu di tahap mana saja yield sebenarnya hilang.
Titik Kehilangan Yield dari Cutting hingga Pengiriman
Kehilangan yield di pabrik kaca jarang terjadi di satu titik saja. Ia menyebar di setiap tahap, dengan bentuk yang berbeda-beda. Tabel berikut memetakan di mana kehilangan biasanya muncul dan apa yang sulit terlihat ketika pencatatan masih terpisah-pisah.
| Tahap Produksi | Bentuk Kehilangan | Yang Sulit Terlihat Tanpa Software |
|---|---|---|
| Penerimaan bahan dan peleburan (bila ada) | Bahan tidak sesuai spesifikasi atau cacat bawaan, serta energi peleburan yang terbuang | Masalah baru ketahuan di tahap akhir dan tidak bisa ditelusuri ke batch atau pemasoknya |
| Pembentukan atau pemotongan | Sisa potongan, pola potong kurang efisien, dan pecah saat pemotongan | Sisa tidak tercatat sebagai stok, dan pemakaian bahan per order tidak diketahui |
| Pengerjaan tepi, pengeboran, dan finishing | Retak atau pecah saat pengerjaan, serta salah ukuran atau salah lubang | Pembuatan ulang tidak tercatat lengkap dengan alasan dan biayanya |
| Tempering atau laminasi | Pecah di oven, muatan tidak penuh, energi terbuang, dan cacat laminasi | Biaya energi dan mesin per order, serta hubungan antara pecah dan batch bahan |
| QC dan sortir grade | Produk ditolak atau diturunkan grade-nya | Reject tidak terhubung ke tahap yang menjadi penyebabnya |
| Packing dan pengiriman | Pecah saat penanganan atau pemuatan, serta salah spesifikasi yang terkirim | Klaim pelanggan tidak terhubung ke order dan batch produksinya |
Dari tabel terlihat polanya: kehilangan terjadi di banyak tahap kecil, dan tidak ada data yang menghubungkan satu tahap dengan tahap berikutnya. Itulah sebabnya laporan akhir bulan sering hanya menunjukkan total selisih, tanpa petunjuk tahap mana yang paling banyak menyumbang.
Software manufaktur menutup celah ini dengan membangun satu rantai data dari order, bahan atau batch, tahap proses, sampai alasan kehilangan. Dengan rantai itu, pabrik bisa melihat tahap mana yang paling boros dan order mana yang menanggung biayanya, lalu memperbaiki tepat di titik yang bermasalah.
Sisa Potongan dan Kaca Pecah, Dua Biaya yang Sering Tak Bertuan
Dari pemetaan sebelumnya, ada dua bentuk kehilangan yang paling sering tidak punya “pemilik” di pabrik kaca, yaitu sisa potongan dan kaca pecah. Keduanya berbeda karakter: sisa potongan masih punya nilai, sedangkan kaca pecah nilainya sudah habis. Namun keduanya sama-sama lolos dari pencatatan ketika produksi hanya dihitung dari jumlah produk jadi.
Sisa Potongan sebagai Stok yang Tidak Pernah Tercatat
Sisa potongan sebenarnya masih bisa dipakai untuk order berukuran kecil. Masalahnya muncul ketika sisa itu tidak tercatat sebagai stok. Potongan menumpuk di rak tanpa label, dan tidak ada yang tahu ukuran, ketebalan, dan jenis apa saja yang tersedia. Akibatnya operator cenderung memotong dari lembar baru meskipun ada sisa yang cocok, sementara sisa lama terus menumpuk, tergores, atau akhirnya dibuang. Pabrik membayar dua kali: bahan baru terpakai, dan bahan lama terbuang percuma.
Software manufaktur mengubah situasi ini dengan mencatat sisa potongan sebagai item stok tersendiri lengkap dengan ukuran, ketebalan, jenis, dan lokasinya. Saat order baru masuk, perencana bisa mencari sisa yang sesuai sebelum membuka lembar baru. Biaya bahan yang melekat pada sisa juga ikut terlacak, sehingga nilainya tidak hilang dari neraca. Untuk menyusun pola potong yang menggabungkan beberapa order sekaligus, pabrik biasanya memakai perangkat optimasi khusus, dan hasilnya (pemakaian bahan serta sisa yang dihasilkan) cukup dimasukkan ke data stok agar tidak berhenti di layar mesin potong.
Kaca Pecah, Alasannya, dan Siapa yang Menanggung Biayanya
Kaca pecah tidak akan pernah bisa dihilangkan sepenuhnya. Yang bisa dilakukan adalah memastikan setiap kejadian pecah tercatat sebagai data yang bisa dianalisis, bukan sekadar diganti diam-diam. Agar catatan itu berguna, setiap kejadian pecah idealnya merekam empat hal berikut.
- Tahap tempat pecah terjadi, misalnya pemotongan, pengerjaan tepi, oven, penanganan, atau pengiriman.
- Penyebab pecah, apakah cacat bahan, kesalahan operator, setelan mesin, atau cara penanganan.
- Batch bahan baku asal kaca tersebut, agar pola kerusakan bisa dikaitkan dengan sumbernya.
- Order yang menanggung biaya pembuatan ulang, supaya biayanya tidak menyatu dengan biaya produksi normal.
Dari keempat catatan itu, yang paling sering membuka temuan penting adalah batch bahan baku. Dengan batch tracking, pabrik bisa melihat apakah pecah yang berulang ternyata terkonsentrasi pada batch atau pemasok tertentu. Temuan seperti ini menjadi dasar yang kuat untuk mengajukan klaim, mengevaluasi pemasok, atau memperbaiki penanganan di dalam pabrik, bukan sekadar menebak penyebabnya.
Tanda Pabrik Kaca Sudah Melampaui Cara Kerja Lama
Tidak setiap pabrik kaca perlu langsung berpindah sistem. Namun ada beberapa gejala yang biasanya muncul ketika spreadsheet dan pencatatan terpisah sudah tidak sanggup mengimbangi kompleksitas produksi. Jika beberapa tanda berikut terasa familier, itu sinyal bahwa pabrik sudah perlu mengevaluasi software manufaktur.
- Stok fisik dan catatan sistem selalu berselisih
Setiap perhitungan stok menemukan angka yang berbeda dari laporan, dan selisihnya sulit dijelaskan karena sisa potongan serta kaca pecah tidak tercatat dengan benar. - Sisa potongan menumpuk tanpa ada yang tahu isinya
Rak penuh potongan dalam berbagai ukuran, tetapi operator tetap membuka lembar baru karena tidak ada daftar sisa yang bisa dicari. - Biaya pembuatan ulang tidak bisa dijelaskan per order
Manajemen tahu ada kaca yang dibuat ulang, tetapi tidak tahu berapa nilainya, di tahap mana terjadinya, dan order mana yang seharusnya menanggung. - Klaim pelanggan atau pemasok sulit ditelusuri
Ketika ada keluhan produk atau dugaan bahan cacat, tim butuh waktu lama mencari tahu batch mana yang dipakai dan kapan diproduksi. - Jadwal produksi disusun manual dan sering berubah
Mesin menunggu bahan, oven berjalan dengan muatan yang tidak penuh, dan perubahan prioritas order membuat jadwal harus disusun ulang dari awal. - Margin per order baru diketahui setelah akhir bulan
Harga jual ditetapkan tanpa gambaran biaya sebenarnya, sehingga order yang tampak menguntungkan ternyata tergerus sisa dan pembuatan ulang. - Data tersebar di banyak file dan bergantung pada satu atau dua orang
Hanya orang tertentu yang paham cara menggabungkan datanya, sehingga laporan terlambat dan rawan salah ketika orang tersebut tidak ada.
Tidak perlu semua tanda terpenuhi. Jika dua atau tiga di antaranya sudah terjadi secara rutin, biaya dari ketidakjelasan itu kemungkinan sudah lebih besar daripada biaya membangun sistem yang tepat. Pertanyaan berikutnya adalah seperti apa sistem tersebut bekerja dalam praktik.
Familiar Dengan Tanda di Atas?
Kalau perusahaan Anda mengalami tanda-tanda di atas, tim konsultan kami siap membantu memberikan solusi terbaik!
Konsultasikan SekarangBagaimana SAP Business One Menopang Pengendalian Yield
SAP Business One berperan sebagai tulang punggung data produksi, stok, dan biaya di pabrik kaca. Artinya, ia mencatat apa yang masuk, apa yang diproses, apa yang keluar sebagai produk atau sisa, dan berapa biayanya. Perangkat optimasi pola potong dan pengendali mesin potong tetap menjadi sistem tersendiri, lalu diintegrasikan dengan SAP Business One supaya hasil kerjanya tidak berhenti di layar mesin. Pembagian peran ini membuat pabrik tidak perlu memilih salah satu, melainkan menyambungkan keduanya dalam satu aliran data.
Fondasinya ada di master data. Melalui item master data, pabrik bisa membedakan setiap jenis kaca berdasarkan ketebalan, ukuran, dan spesifikasi lain, termasuk mendaftarkan sisa potongan sebagai item stok tersendiri agar bisa dicari dan dipakai kembali. Untuk produk berlapis seperti kaca laminasi atau kaca insulasi yang tersusun dari beberapa komponen, multi level BOM memetakan kebutuhan bahan dari tiap lapisan sampai produk jadi. Sisa yang polanya cukup stabil bahkan bisa didefinisikan langsung di BOM sebagai komponen berkuantitas negatif, sehingga otomatis masuk stok ketika produksi selesai.

Bagaimana semua itu bekerja dalam satu siklus? Sebagai gambaran, sebuah order panel kaca masuk, dan material requirement planning menghitung kebutuhan bahan berdasarkan BOM serta stok yang tersedia, termasuk sisa yang masih layak. Order kemudian dijalankan lewat production order, dan bahan yang dikeluarkan ke produksi tercatat per order. Ketika pemotongan menghasilkan sisa, sisa itu dicatat masuk stok. Jika ada panel yang pecah di tengah proses, kejadiannya dicatat sebagai pengeluaran barang dengan alasan yang jelas, dan kode alasan pecah biasanya disiapkan melalui field tambahan pada tahap implementasi. Panel pengganti dibuat dengan bahan yang juga tercatat, sehingga biaya pembuatan ulang jelas menempel pada ordernya. Di akhir siklus, produk jadi diterima ke stok dan siap dikirim dengan jejak batch yang utuh.
Dari rantai data itu, perhitungan biaya menjadi jauh lebih jujur. Melalui item cost, biaya bahan, termasuk bahan yang terbuang atau dibuat ulang, terakumulasi pada order yang menanggungnya. Mesin dan tenaga kerja dapat dimodelkan sebagai resource pada BOM dan production order, sehingga biaya proses ikut terhitung. Hasilnya, margin per order bisa dibaca berdasarkan biaya yang benar-benar terjadi, bukan perkiraan di akhir bulan.
Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Implementasi
Implementasi software manufaktur di pabrik kaca lebih jarang tersendat karena software-nya, dan lebih sering karena persiapan data dan kebiasaan kerja yang belum siap. Beberapa hal berikut sebaiknya sudah dibahas sebelum proyek dimulai, supaya sistem yang berjalan benar-benar mencerminkan cara pabrik bekerja.
- Kodifikasi produk dan sisa potongan
Tentukan aturan penamaan yang konsisten untuk jenis kaca, ketebalan, dan ukuran, termasuk bagaimana sisa potongan diberi kode agar mudah dicari. Struktur kode yang berantakan sejak awal akan membuat laporan sulit dibaca di kemudian hari. - Daftar baku alasan pecah dan reject
Sepakati kategori alasan yang jelas dan siapa yang bertanggung jawab mengisinya. Tanpa daftar baku, data alasan pecah akan terisi sembarangan dan kehilangan nilai analisisnya. - Peta alur produksi per jenis produk
Petakan tahap apa saja yang dilalui setiap jenis produk, dari pemotongan sampai pengiriman, lalu tentukan tahap mana yang perlu dicatat. Pencatatan yang terlalu detail membebani operator, sedangkan yang terlalu longgar membuat kehilangan tidak terlihat. - Titik integrasi dengan optimizer dan mesin
Putuskan data apa yang perlu mengalir antar sistem, misalnya order masuk, hasil pemotongan, dan sisa yang dihasilkan, serta pada tahap mana. Keputusan ini menentukan seberapa utuh rantai data dari order sampai stok. - Kebiasaan pencatatan di lantai produksi
Siapkan operator dan pengawas untuk mencatat langsung di titik kerja, bukan menunggu akhir shift. Sistem yang diisi terlambat akan kembali menjadi catatan sesudah kejadian, bukan alat kendali. - Pilihan model penerapan
Pertimbangkan SAP Business One cloud atau on premise berdasarkan kesiapan infrastruktur, kebutuhan koneksi ke mesin di lantai produksi, dan kapasitas tim IT internal. - Pendamping implementasi yang memahami manufaktur
Seorang SAP consultant yang paham proses produksi akan membantu menerjemahkan kebutuhan pabrik menjadi konfigurasi dan integrasi yang tepat. Think Tank Solusindo sebagai official SAP implementation partner di Indonesia mendampingi proses ini, mulai dari pemetaan kebutuhan hingga dukungan setelah sistem berjalan.
Pabrik yang menyelesaikan persiapan ini sebelum konfigurasi dimulai biasanya mendapat sistem yang lebih cepat dipakai dan data yang lebih dapat dipercaya sejak bulan-bulan pertama.
Kesimpulan
Masalah terbesar di banyak pabrik kaca bukanlah satu kerugian yang mencolok, melainkan kebocoran yield yang tersebar tipis di setiap tahap: sisa potongan yang tidak tercatat, kaca pecah yang diganti diam-diam, dan energi yang terbuang untuk membuat ulang produk yang sama. Selama pencatatan hanya dihitung dari produk jadi, kehilangan ini sulit dilihat, apalagi dibebankan ke order yang menanggungnya.
Software manufaktur untuk pabrik kaca menjawabnya dengan membangun satu rantai data dari order, bahan atau batch, tahap proses, sampai alasan kehilangan. SAP Business One berperan sebagai tulang punggung data produksi, stok, dan biaya, sementara optimasi pola potong dan kontrol mesin tetap dapat diintegrasikan sesuai kebutuhan pabrik. Hasil akhirnya adalah margin per order yang dibaca dari biaya sebenarnya, dan keputusan perbaikan yang diarahkan tepat ke tahap yang paling boros.
Agar hasil itu tercapai, persiapan di awal sama pentingnya dengan pilihan sistem: kodifikasi produk, daftar alasan pecah, alur produksi, dan kebiasaan pencatatan di lantai produksi. Jika pabrik Anda mulai merasakan selisih stok yang sulit dijelaskan atau biaya pembuatan ulang yang tidak bisa dilacak, ini saat yang tepat untuk melihat bagaimana SAP Business One bekerja pada proses produksi Anda. Hubungi tim Think Tank Solusindo untuk berdiskusi dan menjadwalkan demo.
Masih Ragu Implementasi SAP Business One di Perusahaan Anda?
Tim konsultan SAP Business One kami siap membantu Anda menghitung kebutuhan modul dan estimasi biaya sesuai skala bisnis Anda.
Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.
FAQ Seputar Software Manufaktur untuk Pabrik Kaca
Apa itu software manufaktur untuk pabrik kaca?
Software manufaktur untuk pabrik kaca adalah sistem yang merencanakan, mencatat, dan mengendalikan produksi kaca dari bahan baku sampai pengiriman, termasuk kehilangan bahan, sisa potongan, kaca pecah, dan biaya per order. Pada pabrik yang sudah bertumbuh, sistem ini umumnya menjadi bagian dari ERP yang juga menghubungkan gudang, pembelian, penjualan, dan keuangan.
Apa bedanya software manufaktur dengan software optimasi pemotongan kaca?
Software optimasi pemotongan menyusun pola potong agar pemakaian bahan efisien dan biasanya mengendalikan mesin potong. Software manufaktur berbasis ERP mengelola data produksi, stok, biaya, dan pelaporan secara menyeluruh. Keduanya saling melengkapi, dan hasil optimasi sebaiknya diintegrasikan ke ERP agar pemakaian bahan serta sisa potongan tercatat di data stok.
Apakah SAP Business One bisa mencatat sisa potongan kaca?
Bisa. Sisa potongan dapat didaftarkan sebagai item stok tersendiri lengkap dengan ukuran, ketebalan, dan jenisnya. Untuk sisa yang polanya cukup stabil, sisa dapat didefinisikan di BOM sebagai komponen berkuantitas negatif sehingga masuk stok saat produksi selesai. Untuk sisa yang ukurannya bervariasi antar order, pencatatannya lebih tepat melalui transaksi penerimaan barang.
Bagaimana software manufaktur membantu mengurangi kaca pecah dan biaya pembuatan ulang?
Software tidak mencegah kaca pecah secara langsung, tetapi membuat setiap kejadian tercatat lengkap dengan tahap, penyebab, batch bahan, dan order yang menanggung biayanya. Dengan data itu, pabrik bisa melihat tahap atau batch yang paling sering bermasalah, mengajukan klaim yang berdasar, dan memperbaiki penanganan tepat di titik yang bermasalah.
Apa tanda pabrik kaca perlu beralih dari spreadsheet ke software manufaktur?
Tandanya antara lain stok fisik dan sistem selalu berselisih, sisa potongan menumpuk tanpa tercatat, biaya pembuatan ulang tidak bisa dijelaskan per order, klaim sulit ditelusuri ke batch, jadwal produksi disusun manual, dan margin per order baru diketahui setelah akhir bulan. Jika dua atau tiga di antaranya terjadi secara rutin, evaluasi sistem sudah layak dilakukan.
Apakah SAP Business One bisa terhubung dengan mesin potong atau software optimasi?
SAP Business One bukan software khusus kaca, sehingga integrasi dengan optimizer dan mesin potong umumnya dirancang dan dikonfigurasi pada tahap implementasi sesuai kebutuhan pabrik. Karena itu, pemetaan data yang perlu mengalir antar sistem sebaiknya dibahas sejak awal bersama konsultan implementasi.
Apa yang perlu disiapkan sebelum implementasi di pabrik kaca?
Persiapan utama meliputi kodifikasi produk dan sisa potongan, daftar baku alasan pecah dan reject, peta alur produksi per jenis produk, titik integrasi dengan optimizer dan mesin, kebiasaan pencatatan di lantai produksi, pilihan cloud atau on-premise, serta pendamping implementasi yang memahami proses manufaktur.
