Fitur Serial Number dan Batch Tracking di SAP Business One: Cara Pabrik Manufaktur Lacak Setiap Unit Produk
Batch tracking SAP Business One menjadi kebutuhan mendesak ketika tim QC menerima kabar bahwa satu lot bahan baku dari pemasok dinyatakan bermasalah, padahal bahan itu sudah masuk gudang dua bulan lalu. Pertanyaan pertama dari direksi biasanya sederhana: produk jadi mana saja yang memakai lot tersebut, dan sudah terkirim ke pelanggan mana? Jika catatan penerimaan barang, hasil produksi, dan pengiriman tersimpan terpisah di beberapa spreadsheet dan buku besar gudang, jawabannya baru muncul setelah berhari-hari mencocokkan dokumen satu per satu. Selama itu, produk yang berpotensi bermasalah masih beredar di pasar, dan setiap jam yang terbuang memperbesar risiko bagi konsumen maupun reputasi perusahaan.
Masalah serupa muncul di industri yang berbeda. Di pabrik elektronik atau alat berat, satu unit bernilai tinggi yang nomor serinya tidak tercatat dengan benar bisa membuat klaim garansi berlarut-larut, karena tim tidak bisa memastikan kapan dan di lini mana unit itu diproduksi. Saat audit aset, unit tanpa jejak yang jelas menjadi temuan yang sulit dijelaskan.
Kedua situasi tersebut punya akar yang sama: traceability produk yang bergantung pada pencatatan manual dan terpisah-pisah. Pada perusahaan manufaktur skala menengah hingga besar dengan ratusan transaksi per hari, pendekatan ini tidak lagi bisa diandalkan. Fitur Batch Tracking dan Serial Number Management di SAP Business One dirancang untuk menutup celah itu, dengan mencatat identitas setiap batch atau unit sejak bahan baku diterima, melewati proses produksi, hingga sampai ke pelanggan. Dengan begitu, ketika ada masalah kualitas, tim bisa langsung mengetahui produk mana yang terdampak tanpa menelusuri dokumen satu per satu.
- Batch tracking SAP Business One dipakai untuk produk yang dibuat dalam lot dan perlu dipantau per kelompok, sedangkan serial number dipakai untuk produk bernilai tinggi yang dilacak per unit.
- Metode pelacakan ditetapkan per item di Item Master Data, sehingga pabrik dengan produk campuran bisa memakai batch dan serial number sesuai kebutuhan tiap item.
- Identitas batch atau nomor seri dicatat di setiap transaksi, mulai dari penerimaan barang, produksi, hingga pengiriman ke pelanggan.
- Penelusuran ke belakang dan ke depan memungkinkan tim menentukan produk terdampak saat penarikan produk atau klaim garansi tanpa mencocokkan dokumen satu per satu.
- Tim gudang, QC/QA, produksi, dan regulatory bekerja dengan satu sumber data yang sama, sehingga audit dan pelaporan lebih mudah dipertanggungjawabkan.
Mengapa Traceability Jadi Kebutuhan Kritis di Manufaktur?
Traceability adalah kemampuan perusahaan untuk menelusuri asal dan tujuan setiap batch atau unit produk: dari pemasok mana bahan baku datang, diproses di lini mana, dan dikirim ke pelanggan mana. Kebutuhan ini muncul dari dua tekanan yang berbeda, yaitu tuntutan regulasi di industri yang diawasi ketat dan nilai per unit yang tinggi di industri yang produknya harus dilacak satu per satu.
Tekanan pertama paling terasa di farmasi serta makanan dan minuman. Di industri farmasi, penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bersifat wajib, dan Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2018 tentang Pedoman CPOB menempatkan dokumentasi sebagai bagian esensial untuk memastikan ketertelusuran seluruh proses. Di sektor pangan, Peraturan Kepala BPOM Nomor 22 Tahun 2017 tentang penarikan pangan mensyaratkan setiap produsen, importir, dan distributor pangan memiliki sistem ketertelusuran sebagai prasyarat penarikan yang efektif, yaitu kemampuan melacak unit produk atau lot/batch tertentu.
Artinya, bagi perusahaan yang memakai software ERP farmasi maupun software manufaktur pabrik makanan, kemampuan menjawab “batch ini dipakai di produk apa dan dikirim ke siapa” bukan sekadar nilai tambah operasional, melainkan bagian dari kepatuhan.
Tekanan kedua datang dari industri dengan produk bernilai tinggi. Pada pabrik elektronik, alat berat, dan otomotif, satu unit bisa bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah, sehingga nomor seri menjadi identitas unit yang harus bisa dirunut saat klaim garansi, layanan purna jual, maupun audit aset. Tanpa catatan yang utuh, tim tidak bisa memastikan kapan unit diproduksi, komponen mana yang dipakai, dan kepada siapa unit itu dijual.
Dalam kedua kasus, akar masalahnya sama. Ketika data penerimaan, produksi, dan pengiriman tersimpan di dokumen yang terpisah, penelusuran menjadi kerja manual yang lambat dan rawan salah, justru pada saat perusahaan paling membutuhkan jawaban cepat. Karena itu, traceability yang andal perlu dicatat di setiap transaksi stok sejak awal, bukan direkonstruksi setelah masalah muncul.
Batch Tracking vs Serial Number di SAP Business One
Di SAP Business One, pelacakan dikonfigurasi per item, bukan per perusahaan. Saat membuat data barang di Item Master Data, Anda menentukan apakah stok item itu dikelola tanpa pelacakan, per batch, atau per serial number. Pilihan ini menentukan seberapa detail sistem mencatat identitas barang di setiap transaksi stok, dan karena itu perlu diputuskan dengan matang sebelum item mulai bertransaksi.
Batch Tracking
Pada item yang dikelola per batch, sekelompok unit yang diproduksi atau diterima bersama diberi satu nomor batch. Nomor ini membawa data yang melekat pada seluruh kelompok, seperti tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, dan atribut tambahan, sehingga sistem tahu bahwa semua unit dalam batch itu punya asal dan kualitas yang sama.
Satu nomor batch bisa mencakup ratusan hingga ribuan unit, dan setiap transaksi stok mencatat batch mana yang bergerak serta berapa jumlahnya. Pendekatan ini paling cocok untuk produk yang dibuat dalam lot dan yang masa simpan atau mutunya perlu dipantau per kelompok, seperti obat, bahan kimia, makanan, dan minuman.
Serial Number Management
Pada item yang dikelola per serial number, setiap unit fisik punya nomor unik sendiri dan tercatat sebagai satu entitas. Nomor seri ini juga menyimpan data yang melekat pada unit tersebut, termasuk tanggal produksi dan masa garansi, sehingga riwayat satu unit bisa ditelusuri terpisah dari unit lain yang diproduksi pada hari yang sama.
Pendekatan ini cocok untuk produk yang bernilai tinggi dan dijual atau diservis per unit, seperti perangkat elektronik, alat berat, dan kendaraan.
Kapan Memakai yang Mana
Aturan praktisnya sederhana. Jika pertanyaan yang harus bisa dijawab adalah “produk ini berasal dari lot mana dan kapan kedaluwarsanya”, gunakan batch. Jika pertanyaannya “unit ini diproduksi kapan, dijual ke siapa, dan masih dalam garansi atau tidak”, gunakan serial number.
Untuk satu item, Anda memilih salah satu, sehingga di pabrik dengan produk campuran keputusan ini dibuat per item, bukan per pabrik. Pada industri otomotif, misalnya, komponen seperti pelumas atau cat bisa dikelola per batch, sementara unit rakitan bernilai tinggi dikelola per serial number.
Tabel berikut merangkum perbedaannya.
| Aspek | Batch Tracking | Serial Number Management |
|---|---|---|
| Yang dilacak | Sekelompok unit dalam satu lot | Satu unit fisik |
| Identitas | Satu nomor batch untuk banyak unit | Satu nomor seri unik per unit |
| Data yang melekat | Tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, atribut batch | Tanggal produksi, masa garansi, riwayat unit |
| Pertanyaan yang dijawab | Produk ini berasal dari lot mana, dan kapan kedaluwarsanya? | Unit ini diproduksi kapan, dijual ke siapa, dan apakah masih garansi? |
| Industri yang cocok | Farmasi, makanan dan minuman, kimia | Elektronik, alat berat, otomotif |
| Contoh item | Bahan baku, obat, produk kemasan | Mesin, perangkat elektronik, kendaraan |
Setelah metode pelacakan ditetapkan di level item, langkah berikutnya adalah melihat bagaimana sistem mencatat pergerakan batch atau nomor seri itu di setiap tahap alur barang, mulai dari penerimaan hingga pengiriman.
Cara SAP Business One Mencatat Pergerakan Batch dan Serial Number
Pencatatan dimulai dari penerimaan barang (goods receipt). Saat bahan baku atau barang jadi masuk gudang, staf gudang menetapkan nomor batch atau nomor seri langsung pada dokumen penerimaan, lengkap dengan data yang melekat seperti tanggal produksi dan tanggal kedaluwarsa untuk batch.
Sejak titik ini, setiap kuantitas stok di sistem punya identitas yang jelas, dan jika perusahaan memakai fitur Bin Location, identitas itu juga terikat pada lokasi penyimpanan fisiknya di gudang. Karena data dicatat pada saat barang diterima, bukan direkap belakangan, gudang tidak perlu lagi mencocokkan surat jalan pemasok dengan catatan stok secara manual.
Identitas tersebut kemudian terbawa ke tahap produksi. Pada production order, saat komponen dikeluarkan dari gudang untuk diproses (goods issue), sistem mencatat batch atau nomor seri komponen mana yang benar-benar dipakai.
Ketika produk jadi diterima dari lini produksi, ia mendapat nomor batch atau nomor seri sendiri, sehingga hubungan antara bahan baku yang dipakai dan produk jadi yang dihasilkan tersimpan otomatis di dalam transaksi, bukan di catatan terpisah. Inilah yang membuat penelusuran ke belakang dari produk jadi menuju bahan bakunya bisa dilakukan tanpa merekonstruksi dokumen satu per satu.
Tahap terakhir adalah pengiriman ke pelanggan. Saat dokumen pengiriman dibuat, pengguna memilih batch atau nomor seri mana yang dikirim, dan sistem mencatatnya bersama identitas pelanggan penerimanya.
Dengan begitu, satu rantai lengkap terbentuk dari pemasok, gudang, produksi, hingga pelanggan, dan setiap perpindahan stok di antaranya, termasuk transfer antar gudang dan retur, ikut meninggalkan jejak yang sama. Rantai inilah yang menjadi bahan baku laporan traceability, yaitu topik section berikutnya.
Traceability Report Backward dan Forward

Karena setiap transaksi stok sudah membawa identitas batch atau nomor seri, SAP Business One bisa menelusuri satu batch atau satu unit dalam dua arah. Penelusuran ke belakang (backward tracing) dimulai dari produk jadi dan menjawab pertanyaan “bahan baku apa saja yang dipakai, dari batch dan pemasok mana”.
Misalnya, ketika pelanggan mengeluhkan mutu satu batch produk jadi, tim QC memasukkan nomor batch tersebut, lalu sistem menunjukkan production order yang menghasilkannya, komponen beserta batch yang dikonsumsi, hingga dokumen penerimaan dari pemasoknya. Untuk produk bernomor seri, jalurnya sama: dari satu unit ke komponen dan proses yang membentuknya.
Penelusuran ke depan (forward tracing) berjalan sebaliknya, dan inilah yang paling dibutuhkan saat product recall. Dari satu batch bahan baku yang dinyatakan bermasalah, sistem menampilkan production order yang memakainya, batch produk jadi yang dihasilkan, sampai dokumen pengiriman dan pelanggan penerimanya.
Jawaban yang sebelumnya butuh berhari-hari mencocokkan dokumen dapat diperoleh dalam satu alur penelusuran, sehingga tim bisa segera menentukan cakupan produk yang terdampak dan menghubungi pelanggan yang tepat, bukan menarik semua produk secara membabi buta.
Keandalan kedua arah ini bergantung pada satu hal, yaitu kedisiplinan pencatatan di setiap transaksi. Laporan hanya bisa menelusuri apa yang sudah tercatat, sehingga batch atau nomor seri yang dilewatkan saat penerimaan, produksi, atau pengiriman akan menjadi titik putus dalam rantai.
Karena itu, implementasi yang baik menetapkan aturan yang jelas untuk setiap tim yang menyentuh stok, termasuk siapa yang menetapkan batch dan bagaimana koreksi ditangani, agar hasil penelusuran bisa dipertanggungjawabkan saat audit maupun inspeksi regulator.
Skenario Product Recall di Pabrik Makanan dan Minuman
Ambil contoh sebuah pabrik minuman yang menerima pemberitahuan dari pemasok bahwa satu lot bahan baku, misalnya pemanis atau perisa, tidak memenuhi spesifikasi mutu. Tim QC cukup memasukkan nomor batch bahan baku tersebut ke SAP Business One, lalu sistem menampilkan seluruh production order yang memakainya, batch produk jadi yang dihasilkan, dan dokumen pengiriman yang membawa batch itu keluar dari gudang.
Pada saat yang sama, sistem memisahkan stok yang masih ada di gudang dari stok yang sudah terkirim. Pemisahan ini penting karena keduanya membutuhkan tindakan yang berbeda: yang masih di gudang bisa langsung ditahan agar tidak terjual, sedangkan yang sudah terkirim harus ditarik dari distributor atau pelanggan.
Dari daftar pengiriman tersebut, tim mengetahui pelanggan dan distributor mana yang menerima batch terdampak, berapa jumlahnya, dan kapan dikirim, sehingga penarikan bisa ditargetkan pada batch yang relevan saja, bukan seluruh produk dari pabrik itu. Data yang sama juga menjadi bahan laporan penarikan. Pedoman penarikan pangan dari BPOM, misalnya, menyebut isi laporan yang mencakup nomor batch atau lot, kode produksi, dan identitas produk lainnya, sehingga informasi yang sudah tercatat rapi di sistem tinggal disusun, bukan dikumpulkan dari awal di tengah tekanan waktu.
Perbedaannya paling terasa jika dibandingkan dengan cara manual. Tanpa pelacakan di sistem, tim harus mencocokkan catatan penerimaan, jadwal produksi, dan surat jalan yang tersebar di beberapa berkas, sehingga sering kali perusahaan memilih menarik lebih banyak produk daripada yang sebenarnya perlu demi menghindari risiko ada yang terlewat.
Dengan traceability yang berjalan di setiap transaksi, cakupan penarikan bisa dibatasi pada batch yang benar-benar terdampak, sehingga kerugian, gangguan distribusi, dan risiko terhadap reputasi merek bisa ditekan. Hasil ini tetap bergantung pada satu syarat, yaitu batch tercatat lengkap sejak penerimaan hingga pengiriman.
Skenario Klaim Garansi di Pabrik Elektronik
Sebuah pabrik elektronik menerima klaim garansi dari pelanggan yang menyebut unitnya rusak enam bulan setelah pembelian. Tim layanan purna jual cukup memasukkan nomor seri unit tersebut ke SAP Business One, dan sistem menampilkan riwayat lengkapnya: production order yang menghasilkan unit itu, tanggal produksinya, tanggal pengiriman, serta pelanggan atau distributor yang menerimanya. Dari data masa garansi yang melekat pada nomor seri, tim bisa segera memastikan apakah klaim masih berada dalam periode garansi, tanpa harus membuka arsip faktur atau bertanya ke bagian gudang.
Manfaatnya tidak berhenti pada keputusan diterima atau ditolaknya klaim. Karena nomor seri terhubung ke production order, tim juga bisa melihat kapan dan dari proses produksi mana unit itu berasal, termasuk komponen penting yang dipakai bila komponen tersebut dikelola per batch atau nomor seri.
Jika beberapa klaim dengan gejala serupa muncul, tim QC dapat menelusuri apakah unit-unit itu memakai komponen dari lot yang sama, lalu memakai penelusuran ke depan untuk menemukan unit lain yang berpotensi bermasalah sebelum pelanggan lain melapor. Dengan begitu, klaim yang awalnya dianggap kasus terpisah bisa dikenali sebagai pola masalah kualitas dan ditangani di sumbernya.
Riwayat unit yang utuh ini juga menjawab kebutuhan lain di industri dengan produk bernilai tinggi, yaitu audit aset dan verifikasi keaslian. Saat auditor atau pelanggan korporat menanyakan status satu unit, perusahaan bisa menunjukkan jejak dari produksi, penyimpanan, hingga pengiriman berdasarkan catatan transaksi, bukan berdasarkan ingatan atau rekap manual.
Pada industri elektronik, alat berat, maupun otomotif, kemampuan ini mengurangi sengketa garansi yang berlarut-larut, mempercepat layanan purna jual, dan menjaga kepercayaan pelanggan yang membeli unit bernilai besar.
Dampak bagi Tim Gudang, QC/QA, Produksi, dan Regulatory
Fitur pelacakan ini tidak hanya mengubah cara sistem mencatat stok, tetapi juga cara kerja setiap tim yang menyentuh produk sepanjang alurnya. Batch dan nomor seri dicatat di setiap transaksi, sehingga data yang sama bisa dipakai lintas fungsi tanpa saling menunggu rekapan. Berikut dampaknya bagi empat tim yang paling merasakan perubahan.
- Tim Gudang
Penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran barang dicatat lengkap dengan identitas batch atau nomor serinya, sehingga gudang tahu persis batch mana yang ada di lokasi mana dan mana yang harus keluar lebih dulu, misalnya berdasarkan tanggal kedaluwarsa. Pencocokan manual antara surat jalan dan catatan stok berkurang, dan pencarian barang saat ada permintaan penarikan menjadi jauh lebih cepat. - Tim QC/QA
Ketika ada temuan mutu, tim tidak perlu menunggu gudang dan produksi menyusun data. QC/QA bisa menelusuri sendiri batch atau unit yang terdampak, dari bahan baku hingga pelanggan, lalu menentukan cakupan penahanan atau penarikan berdasarkan data. Investigasi akar masalah pun lebih terarah karena hubungan antara bahan baku, proses, dan produk jadi tercatat. - Tim Produksi
Setiap konsumsi komponen dan hasil produksi tercatat terhadap batch atau nomor serinya, sehingga produksi bisa memastikan bahan yang dipakai sesuai dan menjelaskan riwayat produksi suatu batch bila diminta. Dengan data yang sama, tim juga lebih mudah mengaitkan masalah mutu dengan lot bahan baku tertentu, bukan menebak dari catatan shift. - Tim Regulatory
Untuk industri yang diawasi ketat, tim regulatory memerlukan rekaman yang akurat saat audit, inspeksi, atau penarikan produk. Karena riwayat batch dan pengirimannya sudah tersimpan di sistem, dokumen pendukung bisa disiapkan dari satu sumber data, bukan dikumpulkan dari beberapa departemen menjelang batas waktu pelaporan.
Kesimpulan
Batch tracking SAP Business One dan Serial Number Management menjawab satu kebutuhan yang sama dengan cara yang berbeda. Batch dipakai untuk produk yang dibuat dalam lot dan perlu dipantau per kelompok, seperti obat, makanan, dan minuman. Serial number dipakai untuk produk bernilai tinggi yang dijual dan diservis per unit, seperti elektronik, alat berat, dan kendaraan. Keduanya bekerja karena identitas itu dicatat di setiap transaksi, mulai dari penerimaan barang, produksi, sampai pengiriman, sehingga penelusuran ke belakang maupun ke depan bisa dilakukan dari satu sumber data.
Nilainya paling terasa saat masalah muncul. Pada skenario penarikan produk, tim bisa menentukan batch dan pelanggan yang terdampak tanpa mencocokkan dokumen satu per satu. Pada klaim garansi, riwayat unit bisa diverifikasi dari catatan transaksi. Di sisi internal, tim gudang, QC/QA, produksi, dan regulatory bekerja dengan data yang sama, sehingga keputusan diambil lebih cepat dan bisa dipertanggungjawabkan saat audit.
Jika perusahaan Anda masih menelusuri batch atau nomor seri lewat spreadsheet dan dokumen terpisah, mungkin saatnya melihat bagaimana software ERP manufaktur menyatukan proses tersebut. Hubungi kami sekarang untuk mendiskusikan bagaimana SAP Business One dapat membantu pabrik Anda melacak setiap batch dan unit produk dengan lebih akurat.
Masih Ragu Implementasi SAP Business One di Perusahaan Anda?
Tim konsultan SAP Business One kami siap membantu Anda menghitung kebutuhan modul dan estimasi biaya sesuai skala bisnis Anda.
Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.
FAQ Seputar Batch Tracking dan Serial Number SAP Business One
Apa perbedaan batch tracking dan serial number di SAP Business One?
Batch tracking mencatat sekelompok unit yang diproduksi atau diterima bersama dalam satu nomor batch, lengkap dengan data seperti tanggal produksi dan tanggal kedaluwarsa. Serial number memberi nomor unik pada setiap unit fisik sehingga riwayat satu unit bisa dilacak terpisah. Batch cocok untuk farmasi serta makanan dan minuman, sedangkan serial number cocok untuk elektronik, alat berat, dan otomotif.
Bisakah satu item memakai batch dan serial number sekaligus?
Untuk satu item, metode pelacakan dipilih salah satu di Item Master Data. Pada pabrik dengan produk campuran, keputusan dibuat per item, misalnya komponen dikelola per batch sementara produk rakitan bernilai tinggi dikelola per serial number.
Bagaimana serial number SAP B1 membantu proses klaim garansi?
Dengan memasukkan nomor seri unit, tim purna jual bisa melihat riwayat unit tersebut, termasuk production order yang menghasilkannya, tanggal produksi, tanggal pengiriman, dan pelanggan penerimanya. Data masa garansi yang melekat pada nomor seri membantu memastikan apakah klaim masih berlaku.
Apa yang dimaksud traceability produk ERP dan apa bedanya penelusuran backward dan forward?
Traceability produk ERP adalah kemampuan menelusuri asal dan tujuan setiap batch atau unit produk sepanjang alur penerimaan, produksi, dan pengiriman. Penelusuran backward dimulai dari produk jadi untuk menemukan bahan baku dan pemasoknya, sedangkan penelusuran forward dimulai dari batch bahan baku untuk menemukan produk jadi dan pelanggan yang menerimanya.
Industri manufaktur apa yang paling membutuhkan inventory tracking berbasis batch dan serial number?
Industri yang diawasi ketat seperti farmasi serta makanan dan minuman membutuhkannya untuk ketertelusuran dan penarikan produk. Industri dengan nilai per unit tinggi seperti elektronik, alat berat, dan otomotif membutuhkannya untuk garansi, layanan purna jual, dan audit aset.
