Production Planning SAP Business One: Sinkronkan Kapasitas Mesin, Material, dan Tenaga Kerja dalam Satu Tampilan
Semakin matang perencanaan di tahap ini, semakin kecil kemungkinan production order meleset saat dieksekusi
Semakin matang perencanaan di tahap ini, semakin kecil kemungkinan production order meleset saat dieksekusi
MRP Run mengubah pekerjaan tim PPIC dari sekadar menghitung angka di spreadsheet menjadi mengelola dan memvalidasi rekomendasi yang sudah disusun sistem.
Koordinasi antar departemen tidak lagi bergantung pada komunikasi manual, karena semua pihak mengacu pada satu sumber data yang sama dan selalu diperbarui.
Peran tim PPIC bergeser dari menghitung manual menjadi meninjau dan memutuskan, sehingga waktu yang sebelumnya habis untuk rekap data kini bisa dialihkan ke hal yang lebih strategis.
Otomasi pada satu tahap tidak banyak membantu jika data yang mengalir ke tahap berikutnya masih terlambat.
Segregation of duties tidak banyak berarti kalau approval-nya tetap bisa dilakukan asal-asalan, dan 3-way matching tidak akan konsisten kalau tidak ada audit trail yang memastikan setiap langkah benar-benar dilakukan.
Tanpa sistem yang menghitung job costing secara otomatis dan real-time, perusahaan percetakan rentan salah estimasi, yang ujungnya berdampak langsung ke margin keuntungan.
Setiap kali ada pemborosan bahan baku akibat kesalahan cutting, biaya tersebut langsung tercermin di biaya produksi pesanan terkait, sehingga Anda bisa segera mengevaluasi penyebabnya alih-alih baru menyadarinya setelah proyek selesai.
Satu model pakaian dengan 5 ukuran dan 4 warna saja sudah menghasilkan 20 SKU berbeda, dan tanpa sistem yang tepat, kompleksitas ini bisa berujung pada kesalahan alokasi bahan baku di tengah produksi.
Kompleksitas proses produksi berbasis reaksi kimia menuntut lebih dari sekadar ERP manufaktur biasa, perusahaan petrokimia butuh sistem yang memahami produksi berbasis formula dan multi-output.