Fitur Purchasing Module dan Approval Workflow di SAP Business One: Cara Pabrik Manufaktur Kelola Purchase Order Lebih Terstruktur
Di banyak pabrik yang sedang tumbuh, permintaan pembelian bahan baku datang dari berbagai arah. Kepala produksi mengirim daftar kebutuhan lewat grup chat, tim gudang mengabari stok menipis lewat email, dan staf purchasing merangkum semuanya ke dalam spreadsheet sebelum menerbitkan PO. Setelah PO dicetak, dokumen itu berkeliling untuk tanda tangan fisik, dan sering tertahan berhari-hari hanya karena pihak yang berwenang sedang dinas luar. Sementara itu, vendor menunggu kepastian dan jadwal produksi ikut bergeser.
Masalahnya tidak berhenti di keterlambatan. Ketika alur persetujuan hanya bergantung pada kebiasaan, tidak ada jaminan bahwa setiap PO melewati pihak yang seharusnya menyetujui. PO bernilai besar bisa terbit dengan otorisasi seadanya, dan manajemen baru tahu total komitmen pembelian setelah tagihan vendor berdatangan. Di akhir bulan, tim finance harus mencocokkan tagihan dengan PO dan bukti penerimaan barang satu per satu, dan rekonsiliasi inilah yang biasanya memakan waktu paling lama.
Untuk pabrik dengan volume pembelian tinggi, situasi ini bisa dirapikan lewat purchase order SAP Business One yang berjalan di atas Purchasing Module dan Approval Workflow. Seluruh alur pengadaan, dari permintaan pembelian sampai pembayaran, berjalan dalam satu sistem, dan setiap PO di atas nilai tertentu wajib melewati rantai persetujuan yang sudah ditetapkan sebelum bisa diterbitkan ke vendor. Artikel ini menguraikan bagaimana alur tersebut bekerja dan apa dampaknya bagi tim purchasing, finance, dan manajemen.
- Proses pembelian yang tumbuh lebih cepat dari sistemnya membuat PO bisa terbit tanpa otorisasi yang jelas, komitmen pembelian tidak terpantau, dan rekonsiliasi tagihan vendor menumpuk di akhir bulan.
- Purchasing Module SAP Business One mengalirkan seluruh pengadaan, dari purchase requisition, RFQ, purchase order, goods receipt, AP invoice, hingga pembayaran, dalam satu rangkaian dokumen yang saling terhubung dan bisa ditelusuri.
- Approval Workflow menahan PO yang memenuhi kondisi tertentu (nilai, departemen, atau jenis item) sampai seluruh penyetuju yang ditetapkan memberikan persetujuan, sehingga kontrol tidak lagi bergantung pada kedisiplinan individu.
- Rekomendasi pembelian dari MRP Run dan kebutuhan production order berjalan di sistem yang sama, sementara PO yang dihasilkan tetap tunduk pada aturan persetujuan.
- Keterhubungan PO, goods receipt, dan AP invoice membuat selisih kuantitas atau harga terlihat sejak tagihan diproses, sehingga rekonsiliasi akhir bulan jauh lebih ringan bagi tim finance.
Kenapa Proses Pembelian Pabrik Sering Tumbuh Lebih Cepat dari Sistemnya
Pada tahap awal, proses pembelian di pabrik biasanya sederhana: satu atau dua orang purchasing, beberapa vendor tetap, dan atasan yang mengenal hampir semua transaksi. Cara kerja seperti ini wajar. Masalah muncul ketika jumlah item, vendor, dan lini produksi bertambah, tetapi cara kerjanya tidak ikut berubah. Alur yang dulu cukup dengan komunikasi lisan kini harus menangani puluhan permintaan setiap minggu.
- Gejala pertama biasanya terlihat di hulu. Kebutuhan material diajukan lewat email, chat, atau catatan di spreadsheet, sehingga purchase requisition tidak punya bentuk baku. Satu permintaan bisa terkirim dua kali dari orang yang berbeda, atau justru terlewat karena tenggelam di percakapan lain. Staf purchasing akhirnya menghabiskan waktu menelusuri siapa meminta apa, bukan bernegosiasi dengan vendor.
- Gejala kedua ada di tahap persetujuan. Ketika PO harus dicetak dan ditandatangani secara fisik, kecepatan pembelian ditentukan oleh keberadaan penandatangan, bukan oleh urgensi kebutuhan produksi. Tidak ada jejak yang jelas tentang di meja siapa sebuah PO sedang tertahan, dan tidak ada aturan baku tentang PO bernilai berapa yang harus disetujui oleh siapa. Praktiknya bergantung pada kebiasaan, dan kebiasaan mudah berubah ketika tim membesar.
- Gejala ketiga baru terasa di level manajemen: tidak ada satu tempat yang menunjukkan total komitmen pembelian yang sedang berjalan. Data tersebar di file masing-masing staf, sehingga direktur keuangan sulit menjawab pertanyaan sederhana seperti berapa nilai PO yang sudah terbit tetapi barangnya belum diterima.
Di titik inilah kebutuhan akan sistem terintegrasi menjadi nyata. Purchasing Module di SAP Business One dirancang untuk mengganti alur yang terpecah-pecah tadi dengan satu rangkaian dokumen yang saling terhubung, dari permintaan pembelian hingga pembayaran ke vendor.
Dampak Bisnis dari PO yang Terbit Tanpa Kontrol
Alur pembelian yang tidak terstruktur bukan sekadar soal kerapian administrasi. Dampaknya merambat ke keuangan, produksi, dan hubungan dengan vendor. Ada empat dampak yang paling sering dirasakan pabrik.
- Risiko pembelian tanpa otorisasi yang memadai
Ketika tidak ada aturan baku soal siapa yang harus menyetujui PO pada nilai tertentu, PO bernilai besar bisa terbit hanya dengan persetujuan satu orang, atau bahkan tanpa persetujuan sama sekali karena penandatangan sedang berhalangan dan proses “dipercepat”. Dari sisi kontrol internal, kondisi ini membuka celah untuk pembelian di luar anggaran, pemilihan vendor yang tidak melalui evaluasi, hingga penyalahgunaan wewenang. Bagi direktur keuangan, ini adalah risiko yang baru diketahui setelah kejadian. - Komitmen pembelian yang tidak terpantau
PO yang sudah terbit adalah kewajiban yang akan jatuh tempo, meskipun barangnya belum tiba dan tagihannya belum masuk. Jika data PO tersebar di berbagai file, manajemen tidak punya gambaran utuh tentang berapa besar kewajiban yang akan datang dalam beberapa minggu ke depan. Akibatnya, perencanaan arus kas menjadi sebatas perkiraan, dan keputusan pembelian tambahan diambil tanpa tahu seberapa besar komitmen yang sudah berjalan. - Rekonsiliasi tagihan vendor yang berlarut di akhir bulan
Untuk membayar tagihan dengan benar, tim finance perlu memastikan tiga hal: barang yang ditagih memang dipesan, memang sudah diterima, dan harganya sesuai kesepakatan. Kalau ketiga dokumen itu tersimpan di tempat berbeda dan dicocokkan secara manual, setiap selisih harus ditelusuri satu per satu, mulai dari kuantitas yang tidak sama sampai harga yang berbeda dari PO. Pekerjaan ini menumpuk tepat ketika finance sedang sibuk menutup buku, sehingga penutupan bulan ikut molor. - Gangguan pada jadwal produksi dan hubungan dengan vendor
PO yang tertahan di proses persetujuan membuat pesanan terlambat sampai ke vendor, dan material yang dibutuhkan lini produksi ikut terlambat. Di sisi lain, perubahan atau pembatalan PO yang tidak tercatat rapi bisa memicu perselisihan dengan vendor tentang apa yang sebenarnya disepakati.
Keempat masalah ini punya akar yang sama, yaitu proses pembelian tidak berjalan di atas satu alur dan satu sumber data yang bisa dipantau. Karena itu, solusinya bukan sekadar menambah aturan di atas kertas, melainkan memindahkan alur pembelian ke sistem yang otomatis menegakkan aturan tersebut. Section berikutnya menunjukkan bagaimana alur itu berjalan di SAP Business One.
Alur Purchasing Module SAP Business One dari Purchase Requisition sampai Pembayaran
Kekuatan utama Purchasing Module ada pada cara dokumennya saling terhubung. Setiap tahap pembelian memiliki dokumen sendiri, dan data dari tahap sebelumnya terbawa otomatis ke tahap berikutnya tanpa perlu diketik ulang. Alur ini menjadi tulang punggung procurement ERP manufaktur karena setiap perpindahan dokumen meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri.

Alur dimulai dari purchase requisition, yaitu permintaan pembelian yang dibuat oleh pihak yang membutuhkan material, misalnya bagian produksi atau gudang. Permintaan ini dicatat langsung di sistem dengan item, jumlah, dan tanggal kebutuhan yang jelas, sehingga tidak lagi tersebar di email atau chat. Staf purchasing bisa melihat seluruh permintaan yang masuk dalam satu daftar dan memprosesnya sesuai prioritas.
Untuk kebutuhan yang membutuhkan pembandingan harga, purchasing dapat mengirim permintaan penawaran (RFQ) ke beberapa vendor sekaligus, lalu membandingkan penawaran yang masuk sebelum menentukan pemasok. Setelah vendor dipilih, permintaan pembelian atau penawaran tadi disalin menjadi purchase order. Karena datanya dibawa dari dokumen sebelumnya, item dan jumlah yang tertera di PO selalu konsisten dengan permintaan awal.
Ketika barang tiba, gudang mencatat penerimaan melalui goods receipt PO yang merujuk langsung ke PO terkait. Pada saat inilah stok bertambah dan status PO ikut diperbarui, sehingga purchasing dan finance bisa melihat mana pesanan yang sudah diterima penuh, mana yang baru sebagian, dan mana yang belum datang sama sekali. Tidak perlu lagi menanyakan status barang lewat telepon ke gudang.
Tahap berikutnya terjadi ketika tagihan vendor datang. Finance membuat AP invoice dengan menyalin data dari goods receipt, sehingga kuantitas dan harga yang ditagih langsung berdampingan dengan yang dipesan dan yang diterima. Setelah tagihan diverifikasi, pembayaran dicatat melalui outgoing payment yang menutup AP invoice tersebut. Hasilnya adalah satu rantai dokumen dari permintaan awal sampai pelunasan, yang bisa ditelusuri maju dan mundur dari dokumen mana pun.
Bagi manajemen, keuntungan paling nyata dari rantai ini adalah visibilitas komitmen pembelian. PO yang sudah terbit tetapi barangnya belum diterima langsung terlihat di sistem, sehingga pertanyaan tentang total kewajiban yang akan jatuh tempo bisa dijawab tanpa menunggu rekap manual dari staf. Namun, alur yang rapi saja belum cukup. Agar PO tidak terbit tanpa otorisasi, dibutuhkan mekanisme yang menegakkan aturan persetujuan, yaitu Approval Workflow yang dibahas di section berikutnya.
Cara Kerja Approval Workflow di SAP Business One
Approval Workflow, yang di SAP Business One disebut Approval Procedures, adalah mekanisme yang membuat aturan persetujuan berjalan otomatis di dalam sistem. Perusahaan menetapkan lebih dulu siapa yang harus menyetujui dokumen dalam kondisi tertentu, lalu sistem menegakkan aturan itu setiap kali dokumen dibuat. PO yang memenuhi kriteria tidak bisa langsung diterbitkan ke vendor, karena statusnya tertahan sampai seluruh pihak yang ditentukan memberi persetujuan.
Pengaturannya disusun dari dua komponen. Approval stage menentukan siapa saja yang berperan sebagai penyetuju pada satu tingkat dan berapa persetujuan yang dibutuhkan, misalnya tahap pertama cukup satu persetujuan manajer purchasing, sedangkan tahap kedua wajib dari direktur keuangan. Approval template kemudian menyatukan semuanya: siapa pembuat dokumen yang terkena aturan, jenis dokumen yang dicakup, tahapan yang harus dilalui, dan kondisi yang memicu aturan tersebut.

Kondisi pemicu inilah yang membuat alur persetujuan bisa menyesuaikan struktur perusahaan. Pemicu yang paling umum adalah nilai dokumen, sehingga PO di bawah batas tertentu cukup disetujui manajer purchasing, PO di atas batas berikutnya naik ke direktur operasional, dan PO di atas batas tertinggi wajib melewati CFO. Aturan juga bisa dibedakan menurut departemen pembuat dokumen atau jenis item yang dibeli, misalnya bahan baku strategis atau barang modal yang butuh pengawasan lebih ketat. Aturan berdasarkan jenis item biasanya dibangun lewat kondisi berbasis query, sehingga detailnya perlu didiskusikan dengan konsultan implementasi.
Ketika staf purchasing menyimpan PO yang memenuhi kondisi pemicu, sistem tidak menerbitkannya, melainkan mengirimkannya ke penyetuju sebagai permintaan persetujuan. Penyetuju menyetujui atau menolak langsung dari sistem tanpa menunggu kertas berpindah meja, dan setiap keputusan tercatat sehingga jejak siapa menyetujui apa dan kapan bisa ditelusuri saat audit. Dengan begitu, kontrol tidak lagi bergantung pada kedisiplinan individu.
Menghubungkan Purchase Order dengan Production Order dan MRP Run
Di pabrik, pembelian bahan baku tidak berdiri sendiri, karena angkanya ditentukan oleh rencana produksi. Kalau kebutuhan material dihitung manual di spreadsheet lalu diteruskan ke purchasing, selisih antara yang dibutuhkan dan yang dipesan mudah terjadi, entah kelebihan stok atau justru material kurang saat produksi sudah dijadwalkan.
Di SAP Business One, jembatan antara perencanaan produksi dan pembelian ini adalah MRP Run. Sistem menghitung kebutuhan material berdasarkan permintaan (misalnya sales order), struktur produk lewat bill of materials, dan stok yang tersedia, lalu menghasilkan rekomendasi tindakan berupa barang apa yang perlu dibeli, berapa jumlahnya, dan kapan harus dipesan.
Rekomendasi pembelian dari MRP Run tersebut dapat langsung diteruskan menjadi dokumen pembelian di sistem, sehingga purchasing tidak perlu menghitung ulang dan mengetik ulang kebutuhan dari nol. Yang penting bagi topik artikel ini, dokumen pembelian yang lahir dari MRP tetap tunduk pada aturan Approval Workflow.
Artinya, otomatisasi perencanaan tidak menjadi jalan pintas yang melewati kontrol: PO yang nilainya melampaui batas tetap harus disetujui sesuai rantai yang sudah ditetapkan sebelum dikirim ke vendor. Perencana produksi mendapat kecepatan, sementara direktur keuangan tetap memegang kendali atas komitmen pembelian.
Sisi lainnya ada di eksekusi produksi. Ketika production order dijalankan, kebutuhan komponennya mengacu pada data yang sama dengan yang dipakai MRP, dan ketersediaan material terlihat langsung dari stok yang tercatat di sistem.
Kalau ada komponen yang belum cukup, tim purchasing bisa melihat statusnya dan memprioritaskan pembelian yang paling mendesak, sementara tim produksi tahu pesanan mana yang masih dalam perjalanan dan kapan diperkirakan tiba. Hasilnya, pembelian, gudang, dan produksi bekerja dari satu sumber data yang sama, bukan dari tiga versi angka yang berbeda.
Pencocokan PO, Goods Receipt, dan AP Invoice untuk Mencegah Pembayaran yang Tidak Sesuai
Sebelum membayar tagihan vendor, finance perlu memastikan tiga hal: barang yang ditagih memang dipesan, memang sudah diterima, dan harganya sesuai kesepakatan. Di SAP Business One, pemeriksaan ini berjalan lewat pencocokan dokumen terintegrasi antara PO, goods receipt PO, dan AP invoice. Karena setiap dokumen dibuat dengan menyalin dokumen sebelumnya, ketiganya saling merujuk dan bisa ditelusuri dari mana saja. Finance tidak perlu lagi mencari lembar PO dan surat jalan di tumpukan arsip untuk mencocokkan tagihan.
Manfaat praktisnya terlihat pada kuantitas dan harga. Saat AP invoice dibuat dari goods receipt, data yang tertera mengikuti barang yang benar-benar diterima gudang, bukan sekadar angka di faktur vendor. Jika vendor menagih lebih banyak dari yang dikirim, atau harga di faktur berbeda dari harga di PO, selisihnya langsung terlihat saat dokumen dibuat, bukan baru ditemukan di akhir bulan. Kalau perusahaan menginginkan kontrol lebih ketat, misalnya selisih di atas batas tertentu harus ditinjau atasan, aturan tambahan tersebut dapat dikonfigurasi bersama konsultan implementasi sesuai kebijakan masing-masing.
Dampaknya paling terasa pada rekonsiliasi akhir bulan. Karena ketidaksesuaian sudah tertangkap sejak tagihan diproses, tumpukan selisih yang harus ditelusuri manual saat closing jauh berkurang, dan tim finance bisa menutup buku tanpa harus mengejar bukti penerimaan barang ke gudang. Bagi manajemen, ini juga berarti pembayaran yang keluar lebih terjamin sesuai dengan yang benar-benar dipesan dan diterima.
Contoh Skenario Pabrik dengan Volume Pembelian Tinggi
Sebagai ilustrasi, ambil sebuah pabrik manufaktur menengah yang setiap bulan menerbitkan ratusan PO untuk bahan baku, komponen, dan suku cadang. Manajemen ingin memastikan tidak ada PO bernilai besar yang terbit tanpa persetujuan CFO. Sebelum memakai sistem, aturan ini hanya berupa kebijakan tertulis. Dalam praktiknya, PO kerap dicetak dan ditandatangani manajer purchasing lebih dulu demi mengejar jadwal produksi, sementara CFO baru mengetahuinya setelah tagihan vendor masuk.
Dengan Approval Workflow, kebijakan itu dipindahkan ke dalam sistem. Perusahaan menetapkan tingkatan berdasarkan nilai PO, misalnya PO sampai batas tertentu cukup disetujui manajer purchasing, PO di kisaran menengah naik ke direktur operasional, dan PO di atas nilai ambang tertinggi wajib disetujui CFO.
Angka ambangnya tentu disesuaikan dengan skala bisnis dan kebijakan internal masing-masing perusahaan. Ketika staf purchasing menyimpan PO yang nilainya melampaui ambang tersebut, dokumen tidak bisa diterbitkan ke vendor. Statusnya menunggu, dan permintaan persetujuan langsung masuk ke CFO lengkap dengan rincian item, vendor, dan nilai pesanan.
Hasilnya terlihat di dua sisi. Bagi CFO, persetujuan bisa diberikan atau ditolak dari sistem tanpa harus menunggu dokumen fisik, dan seluruh keputusan tercatat sehingga jejak persetujuannya siap diperiksa kapan pun dibutuhkan. Bagi purchasing, tidak ada lagi ruang abu-abu tentang PO mana yang boleh langsung diterbitkan dan mana yang harus menunggu.
Untuk kebutuhan mendesak, alurnya tetap bisa dipercepat karena permintaan persetujuan sampai seketika ke penyetuju yang bersangkutan, bukan lewat proses pengantaran dokumen. Kontrol yang dulu bergantung pada kebiasaan kini ditegakkan oleh sistem pada setiap PO, tanpa memperlambat pembelian yang nilainya di bawah ambang.
Efek ke Tim Purchasing, Finance, dan Manajemen
Perubahan alur pembelian ini tidak hanya dirasakan satu departemen. Berikut dampak yang biasanya muncul di masing-masing tim setelah proses pengadaan berjalan di Purchasing Module dan Approval Workflow.
- Tim Purchasing
Permintaan pembelian masuk dalam satu daftar yang terstruktur, sehingga staf tidak perlu lagi menelusuri email dan chat untuk mengetahui kebutuhan yang harus diproses. Data dari permintaan terbawa ke RFQ dan PO tanpa diketik ulang, dan aturan persetujuan sudah jelas sehingga tidak ada lagi kebingungan soal siapa yang harus dimintai tanda tangan. Waktu yang tadinya habis untuk mengejar dokumen bisa dipakai untuk membandingkan penawaran dan bernegosiasi dengan vendor. - Tim Finance
Karena PO, goods receipt, dan AP invoice saling terhubung, ketidaksesuaian kuantitas atau harga sudah terlihat sejak tagihan diproses, bukan baru ditemukan saat closing. Tumpukan selisih yang harus ditelusuri manual di akhir bulan berkurang, sehingga penutupan buku bisa berjalan lebih tepat waktu. Finance juga lebih yakin bahwa setiap pembayaran yang keluar sesuai dengan barang yang benar-benar dipesan dan diterima. - Manajemen
Direktur dan CFO tidak lagi bergantung pada kedisiplinan individu, sebab PO yang melampaui batas nilai otomatis masuk ke antrean persetujuan mereka. Total komitmen pembelian yang sedang berjalan bisa dilihat langsung dari sistem, sehingga perencanaan arus kas dan keputusan pembelian tambahan didasarkan pada data yang utuh. Setiap keputusan persetujuan juga tercatat, yang memudahkan proses audit internal maupun eksternal.
Ketiga dampak ini saling menguatkan: alur yang terstruktur di sisi purchasing menghasilkan data yang bersih untuk finance, dan data yang bersih itulah yang memberi manajemen gambaran yang bisa dipercaya.
Kesimpulan
Proses pembelian yang tumbuh lebih cepat dari sistemnya akan selalu meninggalkan celah: PO terbit tanpa otorisasi yang jelas, komitmen pembelian yang tidak terpantau, dan rekonsiliasi tagihan vendor yang menumpuk di akhir bulan. Lewat Purchasing Module dan Approval Workflow, SAP Business One merapikan seluruh alur dari purchase requisition, RFQ, purchase order, goods receipt, AP invoice, hingga pembayaran dalam satu rangkaian dokumen yang saling terhubung. Setiap PO yang melampaui batas nilai wajib melewati rantai persetujuan sebelum bisa sampai ke vendor, dan setiap keputusan tercatat sehingga bisa ditelusuri kapan pun dibutuhkan.
Manfaatnya dirasakan lintas tim. Purchasing bisa lebih fokus pada negosiasi dan pengadaan, finance menutup buku dengan selisih tagihan yang jauh lebih sedikit, dan manajemen memegang kontrol atas komitmen pembelian tanpa harus memeriksa dokumen satu per satu. Karena rekomendasi dari MRP Run dan kebutuhan production order juga berjalan di sistem yang sama, pembelian mengikuti rencana produksi tanpa melepaskan kontrol persetujuan.
Jika pabrik Anda sedang menghadapi proses pembelian yang belum terstruktur, langkah terbaik adalah memulai dari pemetaan alur yang berjalan saat ini dan menentukan tingkat persetujuan yang sesuai dengan kebijakan perusahaan. Pelajari bagaimana SAP Business One mendukung operasional pabrik melalui halaman ERP manufaktur atau hubungi tim kami untuk berdiskusi tentang alur pengadaan dan Approval Workflow yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda.
Masih Ragu Implementasi SAP Business One di Perusahaan Anda?
Tim konsultan SAP Business One kami siap membantu Anda menghitung kebutuhan modul dan estimasi biaya sesuai skala bisnis Anda.
Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.
FAQ Seputar Purchasing Module dan Approval Workflow di SAP Business One
Apa saja dokumen dalam alur pembelian di SAP Business One?
Alur pembelian di SAP Business One dimulai dari permintaan pembelian, dilanjutkan dengan permintaan penawaran (RFQ) bila perlu, purchase order, goods receipt PO saat barang diterima, AP invoice untuk tagihan vendor, dan outgoing payment untuk pembayaran. Setiap dokumen dibuat dengan menyalin dokumen sebelumnya, sehingga data terbawa otomatis dan seluruh rangkaian bisa ditelusuri.
Apakah purchase order bisa diterbitkan sebelum disetujui?
Tidak, untuk PO yang memenuhi kondisi pemicu Approval Workflow. Dokumen tersebut tertahan dan dikirim ke penyetuju sebagai permintaan persetujuan. PO baru dapat diterbitkan ke vendor setelah seluruh pihak yang ditetapkan pada template persetujuan memberikan persetujuannya.
Apakah level persetujuan bisa dibedakan berdasarkan nilai PO, departemen, atau jenis item?
Bisa. Pemicu yang paling umum adalah nilai dokumen, sehingga PO dengan nilai lebih besar naik ke level penyetuju yang lebih tinggi. Aturan juga bisa dibedakan menurut departemen pembuat dokumen atau jenis item yang dibeli. Aturan berdasarkan jenis item biasanya memerlukan kondisi berbasis query, sehingga sebaiknya didiskusikan dengan konsultan implementasi.
Apakah PO dari rekomendasi MRP tetap harus melalui persetujuan?
Ya. Dokumen pembelian yang berasal dari rekomendasi MRP tetap tunduk pada aturan Approval Workflow, sehingga PO yang melampaui batas nilai tetap harus melewati rantai persetujuan sebelum dikirim ke vendor.
Bagaimana SAP Business One mencegah pembayaran yang tidak sesuai dengan barang yang diterima?
PO, goods receipt, dan AP invoice saling terhubung karena dibuat dengan menyalin dokumen sebelumnya. Dengan begitu, selisih kuantitas atau harga antara yang dipesan, yang diterima, dan yang ditagih terlihat sejak tagihan diproses, bukan baru ditemukan saat rekonsiliasi akhir bulan. Kontrol tambahan atas selisih dapat dikonfigurasi sesuai kebijakan perusahaan.
