Fitur Preventive Maintenance di SAP Business One: Cara Pabrik Manufaktur Kelola Perawatan Mesin Sebelum Kerusakan Terjadi
Jam dua dini hari, salah satu mesin di lini produksi tiba-tiba berhenti. Teknisi shift malam datang, membongkar, dan menemukan bearing yang sudah aus parah. Saat manajer maintenance dihubungi, ia baru sadar bahwa servis mesin itu seharusnya dilakukan dua minggu lalu. Jadwalnya ada di salah satu tab spreadsheet yang terakhir diperbarui oleh rekan yang sekarang sudah pindah divisi, dan tidak ada yang mengingatkan.
Akibatnya terasa berantai. Produksi berhenti berjam-jam, pesanan yang harus dikirim besok pagi ikut terancam telat, dan biaya perbaikan darurat (suku cadang dipesan mendadak, lembur teknisi) jauh lebih besar daripada biaya servis rutin yang tertunda tadi. Bagi manajemen, ini bukan sekadar masalah teknis di lantai pabrik, melainkan masalah bisnis yang langsung menggerus margin dan kepercayaan pelanggan.
Yang lebih ironis, banyak pabrik seperti ini sebenarnya sudah memakai ERP untuk pembelian, stok, dan keuangan. Namun jadwal perawatan mesin tetap hidup di luar sistem, sehingga data kondisi mesin tidak pernah bertemu dengan data biaya operasional di laporan keuangan. Padahal, SAP Business One menyediakan Service Module dan Equipment Card yang membuat setiap mesin punya kartu riwayat perawatannya sendiri, lengkap dengan jadwal preventive maintenance yang menghasilkan service call otomatis sebelum mesin sempat bermasalah.
- Preventive maintenance menjadwalkan perawatan sebelum mesin rusak, sedangkan corrective maintenance baru bergerak setelah downtime terjadi dengan biaya yang biasanya jauh lebih besar.
- Jadwal perawatan di spreadsheet atau ingatan teknisi membuat servis mudah terlewat dan memutus hubungan antara kondisi mesin dengan biaya operasional di laporan keuangan.
- Equipment Card di SAP Business One menyimpan spesifikasi mesin, riwayat servis, dan jadwal perawatan berikutnya dalam satu kartu per aset produksi.
- Service Module menghasilkan service call otomatis ketika jadwal perawatan mendekati, sehingga tim maintenance tahu mesin mana yang harus diservis tanpa pengingat manual.
- Biaya perawatan tercatat per mesin dan terhubung ke data keuangan, sehingga Finance bisa melihat aset mana yang paling mahal dirawat.
- Pabrik dengan lini continuous manufacturing seperti tekstil atau kertas paling merasakan manfaatnya karena tidak bisa menoleransi downtime mendadak.
- Perubahannya dirasakan tiga tim sekaligus: Maintenance bekerja dengan jadwal yang jelas, Produksi terhindar dari henti mendadak, dan Finance punya data biaya yang akurat.
Preventive vs Corrective Maintenance dan Kenapa Manufaktur Perlu Beralih
Dalam dunia perawatan mesin, ada dua pendekatan besar yang sering dibandingkan. Corrective maintenance adalah perawatan yang dilakukan setelah mesin rusak atau berhenti, jadi tim bergerak untuk memperbaiki, bukan mencegah. Preventive maintenance adalah perawatan terjadwal yang dilakukan sebelum kerusakan terjadi, misalnya penggantian pelumas, pemeriksaan komponen, atau kalibrasi pada interval tertentu, terlepas dari apakah mesin sedang terlihat bermasalah atau tidak.
Secara sekilas, pendekatan korektif tampak lebih hemat karena Anda tidak mengeluarkan biaya sampai ada yang rusak. Namun di pabrik manufaktur, biaya sebenarnya baru muncul setelah mesin berhenti. Produksi terhenti, pekerja menunggu, pesanan pelanggan tertunda, suku cadang harus dipesan mendadak dengan harga dan ongkos kirim yang tidak bisa ditawar, dan teknisi bekerja lembur untuk mengejar waktu. Kerusakan kecil yang sebenarnya bisa ditangani lewat servis rutin pun sering berkembang menjadi kerusakan besar yang merembet ke komponen lain.
Perbedaan kedua pendekatan ini terlihat lebih jelas bila dibandingkan berdampingan.
| Aspek | Corrective Maintenance | Preventive Maintenance |
|---|---|---|
| Waktu tindakan | Setelah mesin rusak atau berhenti | Sebelum kerusakan terjadi, sesuai jadwal |
| Dampak ke produksi | Henti mendadak, jadwal produksi terganggu | Downtime direncanakan dan bisa dipilih di waktu yang paling aman |
| Biaya perbaikan | Cenderung tinggi karena darurat (suku cadang mendadak, lembur) | Lebih terkendali dan bisa dianggarkan di muka |
| Ketersediaan suku cadang | Sering dicari saat mesin sudah berhenti | Bisa disiapkan sebelum jadwal servis tiba |
| Risiko ke pelanggan | Keterlambatan pengiriman sulit diprediksi | Komitmen pengiriman lebih mudah dijaga |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa keunggulan utama pendekatan preventif bukan hanya soal mesin yang lebih awet, melainkan soal kemampuan merencanakan. Downtime tetap ada, tetapi terjadi pada waktu yang Anda pilih, misalnya di sela pergantian shift atau saat pesanan tidak sedang padat, bukan pada jam dua dini hari ketika semua pihak sedang tidak siap.
Meski begitu, beralih ke preventive maintenance tidak cukup hanya dengan niat. Pendekatan ini bergantung pada satu hal yang sering luput, yaitu disiplin menjalankan jadwal. Semakin banyak mesin yang dikelola, semakin sulit jadwal itu dijaga lewat spreadsheet atau ingatan, dan di sinilah banyak pabrik akhirnya kembali ke pola korektif tanpa sadar.
Masalah Maintenance yang Dikelola di Luar ERP
Di banyak pabrik, pola yang terjadi hampir selalu mirip. ERP dipakai untuk pesanan, stok, produksi, dan keuangan, sementara jadwal perawatan mesin dikelola di tempat lain: spreadsheet milik tim maintenance, papan tulis di ruang teknisi, atau catatan di kepala teknisi senior yang sudah hafal kapan setiap mesin harus diservis. Pembagian ini biasanya tidak direncanakan, melainkan tumbuh begitu saja karena spreadsheet terasa paling cepat dan paling mudah dibuat.
Masalahnya baru terasa ketika jumlah mesin bertambah. Jadwal yang tadinya cukup diingat kini tersebar di banyak file dengan format berbeda, dan keakuratannya bergantung pada siapa yang terakhir memperbaruinya. Ketika teknisi senior itu cuti, pindah tugas, atau mengundurkan diri, pengetahuan tentang riwayat servis ikut hilang. Tidak ada kartu riwayat yang bisa dibuka untuk melihat kapan bearing terakhir diganti, suku cadang apa yang dipakai, atau berapa kali mesin yang sama sudah bermasalah dalam setahun.
Dampak yang lebih besar justru terjadi di sisi manajemen. Karena data perawatan tidak berada di dalam sistem yang sama dengan data keuangan, biaya maintenance tidak pernah terhubung dengan mesin yang menimbulkannya. Finance hanya melihat angka total di laporan, misalnya pembelian suku cadang atau jasa servis, tanpa tahu mesin mana yang paling banyak menyedot biaya.
Akibatnya, pertanyaan penting seperti “apakah mesin ini masih layak diperbaiki terus, atau sudah waktunya diganti?” dijawab dengan perkiraan, bukan data. Manajemen yang ingin melihat gambaran utuh antara kondisi aset produksi dan biaya operasional dalam sistem ERP manufaktur yang sudah berjalan justru harus menyatukan data secara manual dari banyak sumber.
Kondisi ini membuat perawatan mesin tetap bersifat reaktif walaupun niatnya sudah preventif. Jadwal ada, tetapi tidak ada mekanisme yang memastikan jadwal itu terlihat, terpantau, dan menghasilkan tindakan tepat waktu. Karena itulah memindahkan pengelolaan maintenance ke dalam sistem yang sama dengan data operasional dan keuangan menjadi langkah yang masuk akal, dan SAP Business One menyediakan cara untuk itu melalui Equipment Card.
Equipment Card di SAP Business One
Equipment Card adalah kartu data master yang mewakili satu unit mesin atau aset produksi di dalam SAP Business One. Fungsinya mirip dengan kartu riwayat mesin yang biasa ditempel di panel mesin atau disimpan di map teknisi, tetapi berada di dalam sistem sehingga bisa dibuka kapan saja oleh siapa pun yang berwenang. Setiap mesin punya kartunya sendiri, dan semua informasi penting tentang mesin itu terkumpul di satu tempat.
Di dalam kartu tersebut tersimpan identitas dan spesifikasi mesin, seperti kode item, nomor seri, nomor seri dari pabrikan, status unit, serta masa garansi bila ada. Informasi ini penting karena saat teknisi menerima tugas servis, mereka tidak perlu lagi mencari tahu mesin yang mana, tipe apa, atau apakah masih dalam garansi. Semuanya sudah tertera sebelum mereka berangkat ke lapangan.
Bagian yang paling bernilai bagi tim maintenance adalah riwayat servis yang melekat pada kartu. Setiap service call yang pernah dibuat untuk mesin tersebut terhubung ke Equipment Card-nya, sehingga Anda bisa menelusuri kapan terakhir mesin diservis, masalah apa yang pernah muncul, dan tindakan apa yang diambil. Kontrak layanan atau jadwal perawatan yang berlaku untuk mesin itu juga bisa dilihat dari kartu yang sama. Dengan begitu, pertanyaan seperti “mesin ini sudah berapa kali bermasalah tahun ini?” bisa dijawab dalam hitungan detik, bukan dengan membongkar file lama.
Efek lain yang sering tidak disadari adalah pengetahuan tidak lagi bergantung pada satu orang. Ketika teknisi senior pindah tugas, riwayat perawatan mesin tetap tersimpan di sistem dan bisa dipahami oleh penggantinya. Bagi manajer maintenance, ini juga berarti evaluasi mesin menjadi lebih objektif: mesin yang sering bermasalah terlihat dari datanya, bukan dari kesan.
Perlu dipahami bahwa Equipment Card sendiri adalah tempat menyimpan dan menelusuri data. Yang membuat jadwal perawatan benar-benar berjalan otomatis adalah Service Module yang bekerja di atasnya, dan itulah yang akan dibahas pada bagian berikutnya.
Service Module dan Service Call Otomatis
Kalau Equipment Card berfungsi sebagai tempat menyimpan data mesin, Service Module adalah mesin penggerak yang membuat jadwal perawatan benar-benar berjalan. Modul ini mengelola seluruh siklus layanan, mulai dari kontrak perawatan, service call, hingga penugasan teknisi dan penyelesaian pekerjaan, semuanya di dalam sistem yang sama dengan data operasional lainnya.

Alurnya dimulai dari kontrak layanan (service contract). Di sini Anda menetapkan mesin mana saja yang tercakup dan seberapa sering perawatan harus dilakukan, misalnya setiap bulan untuk pemeriksaan ringan dan setiap enam bulan untuk servis besar. Karena kontrak terhubung dengan Equipment Card setiap mesin, jadwalnya tidak lagi tersimpan di file terpisah, tetapi melekat langsung pada aset yang dirawat.
Berdasarkan interval tersebut, sistem menghasilkan service call secara otomatis ketika tanggal perawatan sudah mendekati. Tim maintenance tidak perlu lagi membuka spreadsheet setiap pagi untuk mengecek mesin mana yang jatuh tempo, karena tugas servis sudah muncul sebagai service call yang siap ditindaklanjuti. Setiap service call memuat informasi yang dibutuhkan teknisi, seperti mesin yang dimaksud, jenis pekerjaan, prioritas, dan status penanganannya.
Dari sisi pengelolaan, service call yang sudah terbentuk dapat ditugaskan ke teknisi tertentu dan dipantau statusnya sampai selesai. Manajer maintenance bisa melihat service call mana yang masih terbuka, mana yang sudah dikerjakan, dan mana yang terlambat, tanpa harus menanyakannya satu per satu. Ketika pekerjaan selesai, teknisi mencatat tindakan yang dilakukan pada service call tersebut, dan catatan itu otomatis menjadi bagian dari riwayat di Equipment Card mesin. Siklusnya pun tertutup: jadwal memicu service call, service call menghasilkan tindakan, dan tindakan tersimpan sebagai riwayat untuk perawatan berikutnya.
Perubahan terbesar yang dirasakan tim adalah berpindahnya beban mengingat dari manusia ke sistem. Pertanyaan “minggu ini mesin mana yang harus diservis?” tidak lagi dijawab dari hafalan atau pengingat manual, melainkan dari daftar service call yang sudah terbentuk dengan sendirinya. Perawatan yang tadinya bergantung pada kedisiplinan individu kini bergantung pada proses yang konsisten.
Pencatatan Biaya Maintenance per Mesin dan Hubungannya dengan Laporan Keuangan
Salah satu kelemahan terbesar pengelolaan maintenance di luar ERP adalah biaya perawatan yang tidak pernah terhubung dengan mesin penyebabnya. Di sistem, hubungan itu bisa dibangun karena setiap pekerjaan servis berawal dari service call yang melekat pada Equipment Card tertentu. Artinya, setiap suku cadang yang dipakai dan setiap pekerjaan yang dilakukan sudah punya “alamat”: mesin yang mana.
Ketika teknisi menyelesaikan servis, suku cadang atau material yang digunakan dicatat pada service call tersebut, dan pengeluarannya mengikuti alur persediaan serta akuntansi yang sudah ada di SAP Business One. Dengan begitu, pemakaian suku cadang tidak lagi hanya muncul sebagai pengurangan stok di gudang, tetapi bisa ditelusuri sampai ke mesin dan pekerjaan servis yang memakainya. Hal yang sama berlaku untuk biaya jasa atau pengeluaran lain yang terkait dengan perawatan.
Bagi Finance, perbedaannya terasa saat menyusun laporan. Alih-alih hanya melihat angka total biaya perawatan dan suku cadang di akhir bulan, Anda bisa menelusuri biaya itu ke tingkat mesin. Dari sini, banyak pertanyaan yang sebelumnya hanya dijawab dengan perkiraan menjadi bisa dijawab dengan data, misalnya mesin mana yang paling banyak menyedot biaya perawatan, apakah biaya servis satu mesin terus naik dari tahun ke tahun, dan apakah sudah waktunya mempertimbangkan penggantian dibanding perbaikan berulang.
Manfaatnya juga terasa di sisi perencanaan. Karena riwayat biaya tiap mesin tersimpan, anggaran perawatan tahun berikutnya bisa disusun dari pola pengeluaran yang nyata, bukan dari asumsi. Mesin dengan biaya perawatan yang terus membengkak terlihat lebih awal, sebelum menjadi beban yang baru disadari saat laporan tahunan keluar. Bagi manajemen, ini membuat keputusan antara memperbaiki dan mengganti aset didasarkan pada angka, bukan sekadar kesan teknisi.
Hubungan antara data kondisi mesin dan data biaya operasional inilah yang tidak mungkin terbentuk bila jadwal perawatan tetap tinggal di spreadsheet. Satu sistem berarti satu sumber data, sehingga apa yang dikerjakan Maintenance di lantai pabrik langsung terbaca oleh Finance di laporan, tanpa proses rekap manual di antaranya.
Skenario Pabrik Continuous Manufacturing yang Tidak Bisa Menoleransi Downtime
Untuk melihat bagaimana semua komponen tadi bekerja bersama, ambil contoh pabrik tekstil dengan lini pemintalan dan penenunan yang berjalan tiga shift, tujuh hari seminggu. Pabrik kertas dengan mesin produksi kontinu punya pola yang serupa. Pada jenis lini seperti ini, berhenti berarti rugi sejak menit pertama. Mesin yang dimatikan dan dinyalakan ulang membutuhkan waktu untuk kembali stabil, bahan setengah jadi di dalam lini bisa terbuang, dan pesanan yang sudah dijadwalkan ikut bergeser.
Di pabrik seperti ini, kerusakan mendadak hampir selalu berarti kerugian besar, sementara servis terjadwal bisa dimasukkan ke dalam rencana produksi. Itulah sebabnya jadwal perawatan harus bisa dipercaya, bukan sekadar ada.

Alurnya di SAP Business One kurang lebih berjalan seperti berikut:
- Setiap mesin kunci didaftarkan sebagai Equipment Card, lengkap dengan spesifikasi, nomor seri, dan riwayat servisnya.
- Interval perawatan ditetapkan di kontrak layanan, misalnya pemeriksaan pelumasan dan komponen aus tiap bulan, serta servis besar tiap enam bulan.
- Menjelang tanggal jatuh tempo, sistem membentuk service call otomatis untuk mesin yang bersangkutan.
- Manajer maintenance meninjau service call yang akan datang bersama tim produksi, lalu menentukan jendela waktu terbaik, misalnya saat pergantian pesanan atau di sela jadwal yang tidak padat.
- Teknisi menjalankan servis, mencatat tindakan dan suku cadang yang dipakai, dan catatan itu masuk ke riwayat mesin serta data biaya.
Langkah keempat inilah yang membedakan pabrik yang bersiap dengan pabrik yang bereaksi. Karena service call muncul sebelum jatuh tempo, Maintenance dan Produksi punya waktu untuk berunding dan merencanakan downtime, alih-alih bertemu di lantai pabrik saat mesin sudah berhenti. Perencana produksi yang menyusun production order bisa memperhitungkan jendela servis itu lebih awal, sehingga jadwal pengiriman ke pelanggan tidak terkejut oleh henti mendadak.
Manfaatnya juga terlihat dari sisi pemetaan kapasitas. Mesin-mesin kunci di lini biasanya juga menjadi titik kapasitas dalam perencanaan produksi. Ketika jadwal perawatan dan kapasitas mesin dilihat bersama, bottleneck akibat perawatan yang tertunda lebih mudah dikenali sebelum berdampak ke jadwal produksi.
Pada akhirnya, di pabrik yang tidak mengenal jam berhenti, perawatan terjadwal bukan sekadar urusan tim teknis. Ia menjadi bagian dari cara perusahaan menjaga komitmen kepada pelanggan, dan itu hanya bisa konsisten bila jadwalnya hidup di sistem yang terhubung dengan perencanaan produksi dan keuangan.
Dampak ke Tim Maintenance, Produksi, dan Finance
Memindahkan perawatan mesin ke dalam sistem bukan hanya perubahan alat, melainkan perubahan cara tiga tim bekerja sama. Setiap tim merasakan dampak yang berbeda, dan justru kombinasi ketiganya yang membuat perawatan preventif benar-benar bertahan, bukan hanya berjalan beberapa bulan lalu kembali ke pola lama.
| Tim | Sebelum | Sesudah |
|---|---|---|
| Maintenance | Jadwal di spreadsheet atau ingatan, servis mudah terlewat, riwayat mesin tersebar | Service call terbentuk otomatis, riwayat tiap mesin tersimpan di Equipment Card |
| Produksi | Henti mendadak tanpa peringatan, jadwal produksi sering bergeser | Jendela servis diketahui lebih awal dan bisa dimasukkan ke rencana produksi |
| Finance | Biaya perawatan hanya terlihat sebagai angka total, tidak terkait ke mesin tertentu | Biaya bisa ditelusuri per mesin, anggaran disusun dari pola pengeluaran nyata |
- Bagi tim Maintenance, perubahan terbesarnya adalah berpindahnya beban mengingat dari kepala teknisi ke sistem. Teknisi tidak lagi menebak mesin mana yang jatuh tempo, dan manajer maintenance bisa memantau pekerjaan yang terbuka, selesai, atau terlambat tanpa harus menanyakannya satu per satu. Riwayat servis yang tercatat rapi juga membuat pengetahuan tentang mesin tidak lagi hilang saat personel berganti, serta membantu teknisi mendiagnosis masalah berulang dengan lebih cepat.
- Bagi tim Produksi, manfaatnya terletak pada kepastian. Ketika jadwal servis terlihat sebelum jatuh tempo, perencana produksi bisa menyusun jadwal dengan memperhitungkan waktu henti terencana, alih-alih terkejut oleh mesin yang berhenti di tengah shift. Hasilnya, komitmen pengiriman ke pelanggan lebih mudah dijaga, dan hubungan antara Maintenance dan Produksi bergeser dari saling menyalahkan saat mesin berhenti menjadi berunding soal waktu servis yang paling aman.
- Bagi tim Finance, perubahan terasa pada kualitas data. Biaya perawatan yang sebelumnya hanya berupa angka gabungan kini bisa dilihat per mesin, sehingga pertanyaan seperti aset mana yang paling mahal dirawat atau apakah sudah waktunya diganti dapat dijawab dengan data. Finance juga tidak perlu lagi meminta rekap manual dari tim teknis di akhir bulan, karena apa yang dikerjakan Maintenance di lantai pabrik langsung terbaca di sistem yang sama.
Pada tingkat manajemen, ketiga perubahan ini bertemu di satu titik, yaitu keputusan yang lebih cepat dan lebih berdasar. Direktur operasional tidak lagi mengambil keputusan soal perawatan, jadwal produksi, dan penggantian aset dari tiga sumber informasi yang tidak saling terhubung, melainkan dari satu gambaran yang sama.
Kesimpulan
Kerusakan mesin yang tidak terduga di pabrik manufaktur adalah masalah bisnis, bukan sekadar masalah teknis. Produksi berhenti, deadline pelanggan terancam, dan biaya perbaikan darurat hampir selalu lebih besar daripada perawatan rutin yang terjadwal. Namun pendekatan preventif hanya bertahan bila jadwalnya dijalankan dengan disiplin, dan di sinilah spreadsheet serta ingatan teknisi mencapai batasnya seiring bertambahnya jumlah mesin.
Dengan Equipment Card dan Service Module, SAP Business One memindahkan perawatan mesin ke dalam sistem yang sama dengan data operasional dan keuangan. Setiap mesin punya kartu riwayatnya sendiri, jadwal perawatan menghasilkan service call otomatis menjelang jatuh tempo, dan biaya servis dapat ditelusuri sampai ke mesin yang menimbulkannya. Hasilnya terasa di tiga tim sekaligus: Maintenance bekerja dengan jadwal yang jelas, Produksi bisa merencanakan downtime alih-alih terkejut olehnya, dan Finance memegang data biaya yang akurat untuk keputusan memperbaiki atau mengganti aset.
Bila pabrik Anda masih mengelola jadwal perawatan di luar sistem dan perawatan sering terlewat, ini saat yang tepat untuk melihat bagaimana alurnya berjalan langsung pada kondisi lini produksi Anda. Jadwalkan demo SAP Business One bersama tim kami untuk melihat Equipment Card dan Service Module bekerja, serta mendiskusikan penerapannya di pabrik Anda.
Masih Ragu Implementasi SAP Business One di Perusahaan Anda?
Tim konsultan SAP Business One kami siap membantu Anda menghitung kebutuhan modul dan estimasi biaya sesuai skala bisnis Anda.
Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.
FAQ Seputar Preventive Maintenance SAP Business One
Apa itu preventive maintenance di SAP Business One?
Preventive maintenance di SAP Business One adalah pengelolaan perawatan mesin terjadwal di dalam sistem, menggunakan Equipment Card dan Service Module. Setiap mesin punya kartu riwayat sendiri, dan jadwal perawatan menghasilkan service call menjelang tanggal jatuh tempo sehingga servis dilakukan sebelum mesin rusak.
Apa perbedaan Equipment Card dan Service Module?
Equipment Card berfungsi sebagai tempat menyimpan data mesin, seperti spesifikasi, nomor seri, dan riwayat servis. Service Module adalah bagian yang menjalankan prosesnya, mulai dari kontrak layanan, pembuatan service call, penugasan teknisi, hingga pencatatan hasil pekerjaan. Keduanya saling terhubung, sehingga setiap servis tercatat pada mesin yang bersangkutan.
Apakah service call dibuat otomatis oleh sistem?
Ya. Berdasarkan interval perawatan yang ditetapkan pada kontrak layanan, sistem dapat menghasilkan service call ketika tanggal perawatan sudah mendekati. Tim maintenance tidak perlu lagi mengecek spreadsheet atau mengandalkan pengingat manual untuk mengetahui mesin mana yang harus diservis.
Apakah biaya maintenance bisa dilihat per mesin?
Bisa. Karena setiap service call terhubung ke Equipment Card, suku cadang dan pekerjaan servis yang tercatat dapat ditelusuri sampai ke mesin yang menggunakannya. Dengan begitu, Finance dapat melihat mesin mana yang paling banyak membutuhkan biaya perawatan dan memakai data tersebut untuk menyusun anggaran atau menimbang penggantian aset.
Apakah fitur ini cocok untuk pabrik dengan lini produksi continuous manufacturing?
Cocok. Pabrik tekstil atau kertas dengan lini yang berjalan terus-menerus tidak bisa menoleransi henti mendadak. Dengan service call yang muncul sebelum jatuh tempo, tim Maintenance dan Produksi dapat merencanakan jendela servis lebih awal sehingga downtime terjadi pada waktu yang paling aman.
Tim mana saja yang merasakan manfaatnya?
Tiga tim merasakan dampaknya. Tim Maintenance bekerja dengan jadwal yang jelas dan riwayat mesin yang tersimpan rapi, tim Produksi dapat menyusun jadwal dengan memperhitungkan waktu servis, dan tim Finance memperoleh data biaya perawatan yang bisa ditelusuri per mesin.
Bagaimana cara mulai menerapkan preventive maintenance di SAP Business One?
Langkah awalnya adalah memetakan mesin yang perlu dikelola, menentukan interval perawatan tiap mesin, lalu menyiapkan Equipment Card dan kontrak layanan di sistem. Anda dapat berkonsultasi dengan tim kami atau menjadwalkan demo untuk melihat alurnya berjalan sesuai kondisi lini produksi di pabrik Anda.
