Fitur Accounts Receivable di SAP Business One: Cara Perusahaan Distribusi Pantau dan Tagih Piutang Pelanggan Lebih Efektif
Setiap awal pekan, tim finance sebuah perusahaan distribusi membuka file spreadsheet piutang yang terakhir diperbarui entah kapan. Kolom jatuh tempo harus dihitung ulang secara manual, status penagihan tersebar di beberapa catatan berbeda, dan ketika direktur bertanya berapa total piutang pelanggan yang sudah lewat 60 hari, jawabannya baru tersedia setelah setengah hari merekap data. Sementara itu, tim sales di lapangan terus memproses order baru ke pelanggan yang mungkin sedang menunggak, karena tidak ada yang memberi tahu mereka tepat waktu.
Pada perusahaan dengan ratusan pelanggan aktif dan termin pembayaran yang berbeda-beda, situasi ini bukan soal kebijakan penagihan yang lemah. Banyak perusahaan sebenarnya sudah punya aturan yang jelas tentang kapan pelanggan harus diingatkan dan kapan harus dieskalasi. Yang sering gagal adalah eksekusinya: pengingat terlambat dikirim, tindak lanjut tidak tercatat, dan tim finance tidak punya gambaran real-time tentang mana piutang yang perlu ditangani lebih dulu. Padahal piutang adalah salah satu aset terbesar sekaligus risiko terbesar di neraca perusahaan distribusi.
Di sinilah software ERP seperti SAP Business One yang dilengkapi dengan modul accounts receivable berperan. Melalui aging report yang diperbarui otomatis setiap ada transaksi, fitur dunning untuk surat tagihan bertahap, dan customer statement yang bisa langsung dikirim ke pelanggan, proses penagihan berubah dari pekerjaan manual yang bergantung pada ingatan menjadi alur yang terstruktur. Bagi perusahaan yang sedang mencari software ERP distributor yang mampu mengendalikan arus kas dari sisi piutang, memahami cara kerja ketiga fitur ini adalah titik awal yang tepat.
- Masalah piutang di perusahaan distribusi umumnya bukan soal kebijakan penagihan, melainkan eksekusi yang tidak konsisten karena pemantauan masih bergantung pada spreadsheet manual.
- Modul Accounts Receivable di SAP Business One menjalankan alur dari AR invoice, pembayaran masuk, hingga rekonsiliasi otomatis, sehingga saldo piutang setiap pelanggan selalu terbaru.
- Aging report mengelompokkan piutang berdasarkan umur dan jatuh tempo per pelanggan, memberi gambaran eksposur piutang per segmen tanpa rekap manual.
- Fitur dunning menjalankan surat tagihan bertahap sesuai hari keterlambatan, dengan riwayat pengiriman yang tercatat di sistem.
- Customer statement dapat dikirim langsung dari sistem sebagai lampiran email, sehingga pelanggan dan tim finance memegang rekap yang sama.
- Terhubung dengan credit limit, data piutang real-time dapat memblokir atau meminta persetujuan untuk sales order baru, sehingga tingkat collection meningkat tanpa menambah staf finance.
Apa itu Accounts Receivable di SAP Business One?
Accounts Receivable (AR) atau piutang usaha adalah tagihan perusahaan kepada pelanggan atas barang atau jasa yang sudah diserahkan tetapi belum dibayar. Pada perusahaan distribusi yang menjual dengan termin kredit, nilai piutang ini biasanya menjadi salah satu aset terbesar di neraca, sekaligus sumber risiko terbesar: semakin lama sebuah piutang beredar, semakin besar kemungkinan arus kas tertahan atau tagihan menjadi sulit diselesaikan.
Di SAP Business One, modul Accounts Receivable mengelola seluruh siklus piutang pelanggan dalam satu sistem, mulai dari penerbitan AR invoice, pencatatan pembayaran masuk, rekonsiliasi antara faktur dan pembayaran, hingga pemantauan saldo setiap pelanggan. Karena terhubung langsung dengan transaksi penjualan, data piutang tidak perlu disalin atau direkap secara terpisah, sehingga angka yang dilihat tim finance selalu mengikuti transaksi terbaru.
Di atas fondasi data tersebut, modul ini menyediakan tiga fitur utama untuk penagihan: aging report untuk membaca umur piutang, dunning untuk surat tagihan bertahap, dan customer statement untuk rekap transaksi yang dikirim ke pelanggan. Ketiganya akan dibahas satu per satu, tetapi sebelum itu, penting untuk memahami mengapa pemantauan piutang yang masih bergantung pada spreadsheet sulit dijalankan secara konsisten.
Kenapa Pemantauan Piutang di Spreadsheet Sulit Konsisten
Spreadsheet piutang pada dasarnya adalah potret statis dari kondisi yang terus berubah. Begitu satu pelanggan membayar sebagian, satu faktur baru terbit, atau satu pengiriman selesai, angka di file itu sudah tertinggal. Pada perusahaan dengan ratusan pelanggan dan termin pembayaran yang beragam (ada yang 14 hari, 30 hari, 45 hari, bahkan ada yang punya kesepakatan khusus), tim finance harus menghitung ulang umur piutang secara manual setiap kali ingin tahu posisi terkini. Pekerjaan ini memakan waktu, dan hasilnya hanya akurat pada saat file terakhir diperbarui.

Masalah yang lebih sulit terlihat adalah jarak antara data transaksi dan data penagihan. Piutang terbentuk dari faktur yang diterbitkan setelah barang terkirim, sehingga informasinya tersebar di beberapa tempat, mulai dari tim gudang yang mengurus delivery management, tim billing yang menerbitkan faktur, hingga kasir yang mencatat pembayaran masuk.
Ketika semua itu dirangkum manual ke satu spreadsheet, selalu ada selisih waktu dan risiko salah input. Pembayaran yang sudah masuk tapi belum dicocokkan ke faktur yang tepat, misalnya, bisa membuat pelanggan yang sebenarnya sudah lunas tetap muncul sebagai penunggak dan menerima pengingat yang tidak perlu.
Di atas itu semua, ada persoalan tindak lanjut yang tidak terdokumentasi. Kebijakan penagihan biasanya sudah jelas di atas kertas: pengingat ramah sebelum jatuh tempo, teguran setelah lewat beberapa hari, eskalasi ke manajemen kalau tetap diabaikan. Namun dalam praktiknya, siapa yang sudah dihubungi, kapan, dan dengan hasil apa sering hanya tersimpan di ingatan staf atau di percakapan pribadi.
Ketika staf berganti atau pekerjaan menumpuk menjelang tutup bulan, penagihan menjadi tidak konsisten: pelanggan tertentu ditagih berulang kali, sementara yang lain luput berminggu-minggu. Akibatnya, perusahaan baru menyadari eksposur piutangnya ketika angka tersebut sudah membesar dan arus kas mulai terasa ketat.
Cara Kerja AR Module di SAP Business One dari Faktur sampai Rekonsiliasi

Dalam SAP Business One, piutang tidak dicatat sebagai pekerjaan terpisah di luar transaksi penjualan, melainkan terbentuk otomatis dari alur penjualan itu sendiri. Alurnya dimulai dari sales order management, lalu berlanjut ke pengiriman barang, dan berujung pada penerbitan AR Invoice. Karena faktur ditarik langsung dari dokumen pengiriman sebelumnya, data pelanggan, item, harga, dan termin pembayaran terbawa otomatis tanpa input ulang. Begitu AR Invoice diposting, sistem langsung mencatat jurnal ke akun piutang dan menambah saldo pelanggan terkait, sehingga angka piutang perusahaan ikut berubah pada saat itu juga.
Tahap berikutnya adalah pencatatan pembayaran melalui dokumen Incoming Payment. Di sini tim finance memilih pelanggan, dan sistem menampilkan seluruh faktur yang masih terbuka milik pelanggan tersebut. Tim tinggal menandai faktur mana yang dibayar, baik lunas maupun sebagian, dan memasukkan nominal serta metode pembayarannya, misalnya transfer bank, tunai, atau cek. Satu pembayaran bisa dialokasikan ke beberapa faktur sekaligus, yang sangat membantu ketika pelanggan membayar beberapa tagihan dalam satu kali transfer. Dengan begitu, pembayaran langsung ketemu pasangan fakturnya dan tidak lagi menunggu proses pencocokan manual di akhir pekan.
Bagian yang paling meringankan pekerjaan adalah rekonsiliasi yang berjalan otomatis. Ketika pembayaran dialokasikan ke faktur, sistem mencatat pencocokan antara keduanya sehingga faktur yang sudah dibayar penuh berstatus tertutup, sedangkan yang baru dibayar sebagian tetap terbuka dengan sisa saldo yang akurat. Saldo pelanggan pun diperbarui seketika.
Hasilnya, tim finance tidak perlu lagi menghitung ulang sisa tagihan secara manual, dan data inilah yang menjadi fondasi bagi aging report, dunning, dan customer statement yang akan dibahas berikutnya, karena ketiganya sama-sama membaca faktur yang masih terbuka dari sumber data yang sama.
Aging Report di SAP Business One untuk Membaca Umur Piutang
Jika AR Invoice dan Incoming Payment adalah fondasi datanya, maka aging report adalah jendela untuk melihatnya. Laporan ini mengelompokkan seluruh piutang yang masih terbuka berdasarkan berapa lama piutang tersebut sudah beredar atau sudah lewat jatuh tempo, lalu menampilkannya per pelanggan dalam kolom-kolom periode, misalnya belum jatuh tempo, 1 sampai 30 hari, 31 sampai 60 hari, 61 sampai 90 hari, dan lebih dari 90 hari. Karena bersumber langsung dari transaksi yang sudah diposting, laporan ini diperbarui otomatis setiap ada faktur baru atau pembayaran masuk, sehingga tidak ada lagi proses merekap ulang di spreadsheet sebelum rapat.
Cara membacanya cukup lugas. Setiap baris mewakili satu pelanggan, dan setiap kolom menunjukkan berapa nominal piutangnya yang berada di rentang umur tertentu. Pelanggan yang sebagian besar saldonya menumpuk di kolom lama jelas perlu diprioritaskan, sedangkan pelanggan yang saldonya masih di kolom awal umumnya hanya butuh pengingat rutin.
Dari angka total di setiap kolom, manajer keuangan juga bisa langsung menilai seberapa sehat komposisi piutang perusahaan: semakin besar porsi di kolom umur panjang, semakin tinggi risiko piutang tersebut menjadi sulit ditagih. Jika diperlukan, angka pada laporan bisa ditelusuri sampai ke dokumen faktur asalnya, sehingga tim tidak perlu mencari sumber selisih di tempat lain.
Kekuatan lain dari laporan ini ada pada fleksibilitas filter. Tim finance dapat menentukan rentang pelanggan yang ingin dilihat, tanggal acuan pengukuran umur, serta pembagian periodenya, termasuk apakah umur dihitung dari tanggal jatuh tempo atau dari tanggal faktur. Untuk perusahaan distribusi dengan termin pembayaran yang beragam, penghitungan berdasarkan jatuh tempo biasanya lebih adil karena pelanggan dengan termin 45 hari tidak akan terlihat menunggak hanya karena fakturnya sudah berumur 35 hari.
Dengan mengelompokkan pelanggan berdasarkan segmen atau wilayah, manajemen juga bisa melihat eksposur piutang per segmen dalam hitungan menit, informasi yang sebelumnya hampir mustahil didapat dari spreadsheet yang diperbarui manual.
Fitur Dunning di SAP Business One untuk Surat Tagihan Bertahap
Setelah aging report menunjukkan pelanggan mana yang sudah lewat jatuh tempo, pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus dilakukan dan kapan. Di sinilah fitur dunning berperan. Dunning adalah mekanisme penagihan bertahap, di mana setiap pelanggan yang menunggak menerima surat tagihan dengan tingkat ketegasan yang meningkat seiring bertambahnya hari keterlambatan. Tim finance tidak lagi menulis pengingat satu per satu atau mengingat siapa yang sudah ditegur, karena aturan mainnya sudah tertanam di dalam sistem.
Kuncinya ada pada pengaturan level dunning. Perusahaan menetapkan sendiri berapa level yang dibutuhkan dan berapa hari keterlambatan yang memicu masing-masing level. Misalnya, level pertama dikirim ketika piutang terlambat 7 hari sebagai pengingat bernada ramah, level kedua pada hari ke-21 dengan teguran yang lebih tegas, dan level ketiga pada hari ke-45 sebagai peringatan akhir sebelum pelanggan dibawa ke tahap eskalasi lain.
Untuk setiap level, tim dapat menyiapkan templat surat dengan nada yang berbeda, sehingga komunikasi ke pelanggan tetap konsisten dan profesional apa pun siapa staf yang menjalankannya. Angka hari di atas hanyalah ilustrasi, dan setiap perusahaan bebas menyesuaikannya dengan kebijakan termin dan karakter pelanggannya.
Saat proses penagihan dijalankan, sistem memeriksa seluruh faktur terbuka lalu memilih pelanggan yang memenuhi syarat untuk setiap level, kemudian menyiapkan surat tagihan sesuai level yang berlaku bagi masing-masing pelanggan. Pelanggan yang sudah menerima level pertama tidak akan menerimanya lagi, dan baru naik ke level berikutnya ketika keterlambatannya mencapai ambang yang sudah ditentukan.
Riwayat surat yang pernah dikirim juga tercatat, sehingga siapa pun di tim finance bisa melihat pelanggan mana yang sudah ditegur, di level berapa, dan kapan. Persoalan tindak lanjut yang tidak terdokumentasi, yang sering menjadi sumber penagihan tidak konsisten, pun teratasi tanpa perlu menambah staf.
Customer Statement di SAP Business One sebagai Rekap Transaksi untuk Pelanggan
Surat tagihan bertahap efektif untuk pelanggan yang sudah menunggak, tetapi tidak semua selisih angka berasal dari keterlambatan. Dalam praktiknya, tidak jarang pelanggan merasa belum menerima faktur tertentu, sudah membayar tetapi pembayarannya belum tercatat, atau memiliki catatan saldo yang berbeda dengan milik penjual. Selisih seperti ini bisa menahan pembayaran berminggu-minggu hanya karena kedua pihak belum memegang rekap yang sama. Untuk itulah ada customer statement, yaitu laporan yang merangkum seluruh transaksi dan saldo piutang satu pelanggan dalam periode tertentu.
Isi laporan ini mencakup faktur yang terbit, pembayaran yang sudah diterima, serta saldo yang masih berjalan, disusun per pelanggan sehingga bisa dibaca seperti rekening koran. Karena datanya diambil dari transaksi yang sama dengan aging report, angka yang dilihat pelanggan selalu konsisten dengan yang dipegang tim finance. Tim tinggal memilih pelanggan dan periode yang ingin direkap, lalu sistem menyusun laporannya tanpa perlu menyalin data ke format lain. Untuk perusahaan dengan ratusan pelanggan aktif, proses ini bisa dijalankan sekaligus untuk banyak pelanggan pada akhir bulan, bukan satu per satu.
Keunggulan praktisnya muncul pada tahap pengiriman. Laporan yang sudah jadi dapat dikirim langsung dari sistem sebagai lampiran email, sehingga tim finance tidak perlu mengekspor file, menyimpannya, lalu melampirkannya secara manual di aplikasi email lain. Pelanggan menerima rekap yang rapi dan seragam, dan jika ada perbedaan angka, selisihnya bisa langsung dibahas berdasarkan dokumen yang sama. Fitur ini juga melengkapi dunning: surat tagihan menegur pelanggan yang terlambat, sedangkan customer statement memberi mereka dasar data yang jelas untuk segera membayar atau mengklarifikasi.
Hubungan AR Module dengan Credit Limit
Tiga fitur sebelumnya bekerja setelah piutang terbentuk. Pertanyaannya, bagaimana mencegah piutang bermasalah bertambah sementara tim sales terus menerima order? Jawabannya ada pada keterhubungan modul Accounts Receivable dengan fitur credit limit. Batas kredit yang ditetapkan untuk setiap pelanggan dibandingkan dengan saldo piutang terbuka yang diperbarui otomatis setiap ada faktur baru atau pembayaran masuk, sehingga sistem selalu menilai order baru berdasarkan kondisi terkini, bukan berdasarkan rekap yang sudah usang.
Dampaknya terasa langsung di sisi penjualan. Ketika pelanggan sudah mendekati atau melewati batas kreditnya, atau masih memiliki tagihan yang jatuh tempo, sales order baru dapat diblokir atau diminta persetujuan sebelum bisa diproses. Sebaliknya, begitu pelanggan melunasi tagihannya dan pembayaran dicatat, saldo piutangnya turun dan order berikutnya bisa berjalan normal tanpa perlu menunggu konfirmasi manual. Dengan begitu, penagihan dan pengendalian order saling menguatkan: dunning mendorong pelanggan membayar, sementara credit limit memastikan eksposur piutang tidak terus membesar selama pembayaran belum masuk.
Skenario Distributor dengan 500+ Pelanggan Aktif
Ambil contoh distributor dengan lebih dari 500 pelanggan aktif, masing-masing dengan termin pembayaran sendiri. Sebelum memakai sistem, tim finance menghabiskan waktu merekap umur piutang secara manual, menentukan siapa yang perlu diingatkan, lalu menulis dan mengirim pengingat satu per satu. Setelah modul Accounts Receivable berjalan, hampir seluruh rangkaian itu berpindah ke sistem.
Aging report memberi gambaran terkini tanpa rekap, level dunning yang sudah diatur memicu surat tagihan sesuai umur keterlambatan, dan customer statement dikirim langsung ke pelanggan sebagai rekap resmi. Tim finance tidak lagi mengerjakan setiap langkah secara manual, melainkan memantau pengecualian: pelanggan yang tetap tidak merespons atau yang saldonya diperselisihkan.
| Aspek Penagihan | Sebelum (Spreadsheet Manual) | Sesudah (AR Module SAP B1) |
|---|---|---|
| Gambaran umur piutang | Direkap manual dan hanya akurat saat terakhir diperbarui | Aging report diperbarui otomatis setiap ada faktur atau pembayaran |
| Pengingat penagihan | Ditulis dan dikirim satu per satu, bergantung pada ingatan staf | Surat bertahap sesuai level dunning berdasarkan hari keterlambatan |
| Rekap untuk pelanggan | Diekspor dan dilampirkan manual di aplikasi email lain | Customer statement dikirim langsung dari sistem sebagai lampiran email |
| Riwayat tindak lanjut | Tersebar di catatan pribadi dan percakapan | Tercatat di sistem, bisa dilihat seluruh tim finance |
| Order baru ke pelanggan menunggak | Lolos karena sales tidak tahu status piutang | Diblokir atau diminta persetujuan lewat credit limit |
| Fokus tim finance | Merekap data dan mengirim pengingat | Menangani pengecualian dan negosiasi dengan pelanggan bermasalah |
Perubahan terbesarnya bukan pada kecepatan semata, melainkan pada konsistensi. Pelanggan nomor 480 diperlakukan sama disiplinnya dengan pelanggan nomor 5, karena aturan penagihan dijalankan oleh sistem, bukan oleh siapa yang sempat mengingatnya. Dengan begitu, tingkat collection dapat ditingkatkan tanpa menambah staf finance, karena waktu tim dialihkan dari pekerjaan administratif ke penanganan kasus yang memang memerlukan keputusan manusia.
Dampak Modul Accounts Receivable bagi Tim Finance, Sales, dan Manajemen
Perubahan cara penagihan tidak hanya dirasakan di meja finance. Karena piutang menyentuh penjualan sekaligus keputusan strategis, tiga kelompok berikut merasakan dampak yang berbeda ketika data piutang tersedia secara real-time dan penagihan berjalan terstruktur:
- Tim Finance
Pekerjaan bergeser dari merekap dan mengirim pengingat ke menangani pengecualian. Aging report yang selalu terbaru menghilangkan proses rekap manual, dunning menjalankan pengingat bertahap tanpa harus ditulis satu per satu, dan customer statement menjadi dasar yang jelas ketika ada selisih saldo. Hasilnya, volume penagihan yang besar bisa ditangani tanpa menambah staf, dan tim punya waktu lebih untuk bernegosiasi dengan pelanggan yang benar-benar bermasalah. - Tim Sales
Tim di lapangan mendapatkan kejelasan soal status piutang pelanggan sebelum order diproses. Karena credit limit memanfaatkan data piutang terkini, order ke pelanggan yang menunggak tidak lagi lolos begitu saja dan baru diketahui bermasalah setelah barang terkirim. Hal ini juga mengurangi gesekan antara sales dan finance, sebab keputusan didasarkan pada angka yang sama, bukan pada perkiraan masing-masing pihak. - Manajemen
Direktur keuangan dan pimpinan perusahaan memperoleh gambaran eksposur piutang kapan pun dibutuhkan, termasuk komposisinya per umur dan per segmen pelanggan, tanpa menunggu rekap akhir bulan. Informasi ini membantu mereka menilai risiko arus kas lebih awal, menyesuaikan kebijakan termin atau batas kredit, dan mengambil keputusan penagihan berdasarkan data yang bisa dipercaya.
Kesimpulan
Bagi perusahaan distribusi dengan ratusan pelanggan aktif, tantangan piutang jarang terletak pada kebijakan yang kurang jelas, melainkan pada eksekusi yang tidak konsisten karena tim tidak punya alat yang memadai. Modul Accounts Receivable di SAP Business One menjawabnya dari beberapa sisi sekaligus: alur dari AR invoice sampai rekonsiliasi yang berjalan otomatis, aging report yang selalu terbaru, dunning yang menjalankan penagihan bertahap sesuai umur keterlambatan, dan customer statement yang bisa dikirim langsung ke pelanggan. Ditambah keterhubungan dengan credit limit, penagihan dan pengendalian order berjalan dalam satu sistem yang sama, sehingga tingkat collection bisa meningkat tanpa harus menambah staf finance.
Jika proses pemantauan piutang di perusahaan Anda masih bergantung pada spreadsheet yang diperbarui manual, inilah saat yang tepat untuk mengevaluasi alternatifnya. Pelajari bagaimana SAP Business One mendukung operasional bisnis distribusi melalui halaman website solusi ERP untuk distribution, atau langsung jadwalkan demo SAP Business One bersama tim kami untuk melihat fitur piutang bekerja dengan alur penagihan perusahaan Anda.
Masih Ragu Implementasi SAP Business One di Perusahaan Anda?
Tim konsultan SAP Business One kami siap membantu Anda menghitung kebutuhan modul dan estimasi biaya sesuai skala bisnis Anda.
Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.
FAQ Seputar Fitur Accounts Receivable di SAP Business One
Apa fungsi modul Accounts Receivable di SAP Business One?
Modul Accounts Receivable di SAP Business One mengelola seluruh alur piutang pelanggan, mulai dari penerbitan AR invoice, pencatatan pembayaran masuk, hingga rekonsiliasi otomatis antara faktur dan pembayaran. Karena terhubung langsung dengan transaksi penjualan, saldo piutang setiap pelanggan diperbarui secara real-time dan menjadi dasar bagi aging report, dunning, dan customer statement.
Bagaimana aging report membantu memantau piutang pelanggan?
Aging report mengelompokkan piutang yang masih terbuka berdasarkan umur atau keterlambatannya, misalnya belum jatuh tempo, 1 sampai 30 hari, hingga lebih dari 90 hari, lalu menampilkannya per pelanggan. Laporan ini diperbarui otomatis setiap ada faktur atau pembayaran baru, sehingga tim finance dapat langsung melihat pelanggan mana yang perlu diprioritaskan tanpa merekap data secara manual.
Apa itu dunning dan bagaimana cara kerjanya di SAP Business One?
Dunning adalah fitur penagihan bertahap, di mana pelanggan yang menunggak menerima surat tagihan dengan tingkat ketegasan yang meningkat seiring bertambahnya hari keterlambatan. Perusahaan menentukan sendiri jumlah level dan jumlah hari yang memicu tiap level, sehingga pengingat ramah, teguran, dan peringatan akhir dapat dijalankan secara konsisten dan riwayat pengirimannya tercatat di sistem.
Apakah customer statement bisa dikirim langsung ke pelanggan dari sistem?
Ya. Customer statement merangkum faktur, pembayaran, dan saldo piutang satu pelanggan dalam periode tertentu, dan dapat dikirim langsung dari sistem sebagai lampiran email. Dengan begitu, pelanggan dan tim finance memegang rekap yang sama, sehingga selisih angka lebih cepat diselesaikan.
Apakah data piutang bisa mempengaruhi sales order baru pelanggan?
Bisa. Ketika modul Accounts Receivable dihubungkan dengan fitur credit limit, saldo piutang terbaru dibandingkan dengan batas kredit pelanggan. Jika pelanggan melewati batas atau memiliki tagihan yang jatuh tempo, sales order baru dapat diblokir atau diminta persetujuan terlebih dahulu sebelum diproses.
